Langsung ke konten utama

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya."

Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage).

Cover depan buku "The Pilgrimage"

Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis. Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah. Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, karena buku ini ditulis sebelum Sang Alkemis. Harga asli yang tertera adalah Rp79.000 untuk Pulau Jawa dan kami mendapatkan diskon sebesar 20%, paling tidak sekitar Rp63.200.

Sebagai informasi tambahan, Ziarah merupakan novel pertama Coelho yang sukses di pasaran setelah sebelumnya pada awal tahun 1980-an ia sempat menerbitkan dua buku yang kurang laku. Buku yang kupegang ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1987, dan yang aku baca merupakan cetakan kesembilan tahun 2026 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Diterjemahkan oleh Eko Indriantanto dan tim editor, buku ini terdiri dari 264 halaman yang terbagi dalam 17 bab.

Lantas, bagaimana ulasan novel Coelho kali ini? Simak terus tulisan ini, ya!

Novel ini Bercerita tentang Apa?


Novel ini mengisahkan perjalanan spiritual Paulo (tokoh utama) dari kampung halamannya di Brasil menuju Santiago de Compostela di Spanyol. Paulo di sini diceritakan sebagai pengikut Ordo RAM (Regnus Agnus Mundi), sebuah ordo yang memiliki Tradisi spiritual khusus.

Puncak konflik dibuka di permulaan cerita di mana Paulo gagal menerima pedangnya, sebuah simbol pencapaian tingkat Master serta kepemimpinan spiritual dalam Tradisi Ordo. Agar berhak memperoleh pedangnya kembali, Paulo harus menempuh perjalanan ziarah panjang menyusuri jalur kuno El Camino di Spanyol. Menurut informasi yang aku peroleh setelah selesai membaca, buku ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan spiritual Coelho sendiri.

Perjalanan spiritual yang dituliskan di sini tidak sekadar menceritakan fisik perjalanannya, tetapi juga latihan-latihan batin yang membuat sosok Paulo menjadi lebih dewasa. Selama perjalanan, sisi-sisi kehidupan ditampilkan melalui interaksi maupun latihan bersama pemandunya, Petrus. Jadi, tema novel ini mengangkat sisi kehidupan yang dipadukan dengan aspek religius. Walaupun erat dengan ajaran agama tertentu, bukan berarti pembaca beragama lain tidak bisa mengambil pelajaran. Nanti akan aku ceritakan bagaimana aku sebagai seorang Muslim merasa sangat related dengan novel ini.

Apa Kelebihan dan Kekurangan Novel ini?

Jujur, menurutku secara garis besar novel ini jauh lebih unggul kelebihannya.

Dari sisi penokohan, Coelho menggambarkan tokoh Paulo sebagai manusia pada umumnya: menikah, sibuk bekerja, memiliki impian, tetapi juga tak lepas dari kekurangan. Misalnya sifat tergesa-gesa, yang lantas mendapat teguran keras dari Petrus. Petrus mengingatkan bahwa seseorang perlu memaknai proses, serta merenungkan pertanyaan: "Apa yang akan kamu lakukan setelah berhasil mencapainya?" Pertanyaan ini penting agar kita tidak hanya fokus pada tujuan, tetapi juga memahami maknanya bagi diri kita.

Selain Paulo dan Petrus, ada pula tokoh lain seperti istri Paulo, sang Guru, hingga entitas spiritual yang unik. Dalam tradisi RAM, digambarkan adanya Utusan Pribadi atau dalam novel disebut Sang Pewarta (Personal Messenger), sosok perantara spiritual yang dipanggil melalui latihan tertentu, serta wujud Iblis/Kekuatan Gelap (Legion) yang merepresentasikan ketakutan dan keraguan. Wujudnya tidak selalu berupa hantu atau monster menyeramkan, tetapi bisa menjelma sebagai manusia atau hewan.

Dari sisi alur dan latar, novel ini menggunakan alur maju menuju lokasi tujuan. Meski tampak linear, dinamika di setiap persinggahan terasa kompleks. Latar tempatnya berada di jalur ziarah Spanyol yang melintasi hutan, air terjun, dan desa-desa kecil yang jauh dari pusat peradaban, namun disandingkan dengan latar waktu modern (masih ada bus, pesawat, dan telepon).

Penggunaan sudut pandang orang pertama membuat cerita terasa seolah-olah pengalaman autobiografis nyata. Gaya bahasanya pun komunikatif berkat penerjemahan yang apik. Meski ada beberapa istilah tradisi keagamaan atau sejarah yang terasa awam bagiku (seperti istilah kapel), catatan kaki yang disematkan Coelho sangat membantu untuk belajar hal baru. Unsur realisme magis yang dihadirkan juga membuat kisahnya menjadi semakin kaya.

Apa Hal Menarik dari Novel ini?

Semua hal dalam novel ini menarik karena memberiku banyak pengetahuan baru tentang tradisi keagamaan yang jauh dari lingkunganku.

Dalam bagian awal, Coelho menjelaskan bahwa perjalanan spiritual/ziarah tidak hanya dilakukan oleh umat Islam yang pergi ke Baitullah untuk menunaikan Haji dan Umrah. Dalam tradisi Katolik, terdapat tiga tempat ziarah utama untuk menandai kelengkapan imannya: Makam Suci Kristus di Yerusalem, Pusara Santo Petrus di Roma, dan Santiago de Compostela.

Dari kemiripan inilah aku merasa related. Bukan berarti aku ikut mengimani ritualnya, melainkan aku sepakat bahwa setiap ziarah seharusnya dimaknai sebagai perjalanan fisik sekaligus batin menuju tempat yang mulia. Bagi umat Islam, pemaknaan ini membuat Haji dan Umrah bukan lagi sekadar rekreasi spiritual, melainkan perjalanan menuju fitrah dan pribadi yang utuh.

Pemaknaan ini sebenarnya tidak hanya berlaku saat ibadah Haji atau Umrah. Di Indonesia, masyarakat sangat kental dengan tradisi Ziarah Wali. Sudah saatnya Ziarah Wali tidak sekadar diniatkan untuk mengingat kematian atau mencari berkah secara tradisional, tetapi juga menjadi perjalanan yang mempertanyakan: "Akan jadi apa kita setelah perjalanan ini usai?"

Bahkan, semangat ini bisa diimplementasikan dalam perjalanan sehari-hari, saat berangkat ke sekolah, kantor, atau tempat lainnya. Setidaknya, hasil akhir dari setiap perjalanan adalah menjadikan kita pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Bayangkan betapa bijaknya kita jika setiap hari menanamkan pemikiran seperti ini.

Kegagalan Paulo memperoleh pedangnya di awal cerita, sehingga pedang itu harus disembunyikan di sepanjang jalur ziarah,  juga nyatanya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar simbol keagamaan. Kegagalan tersebut disebabkan oleh sikap tergesa-gesa dan rasa sombong, seolah-olah ia ingin segera menguasai kekuasaan spiritual tersebut. Refleksi ini sangat relevan untuk dua hal:

Pertama, tentang impian dan cita-Cita: Sepatutnya kita mempertanyakan, apa sebenarnya yang ingin kita lakukan dengan impian atau cita-cita tersebut? Apakah kita benar-benar menginginkannya, atau sekadar mencari validasi dan gengsi di mata orang lain? Hal ini penting direnungkan agar kita tidak terjebak pada ekspektasi orang lain.

Kedua, tentang kepemimpinan yang dipaksakan: Konsep ini terasa sangat relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Kepemimpinan seolah kehilangan harga dirinya karena 'dijual' dengan harga murah. Orang-orang yang menempati posisi pemimpin, alih-alih dapat diandalkan, justru sering kali tidak tahu apa-apa soal kepemimpinan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu orang, melainkan oleh semua orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh secara instan atau dibeli murah demi menguasai hal-hal tertentu, melainkan proses yang harus ditempa dan dilatih. 

Di luar itu, ada banyak latihan batin dalam novel ini yang sangat menarik untuk diaplikasikan, seperti latihan pernapasan untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan lelah, atau latihan mendengarkan untuk melatih fokus pada suara-suara di sekeliling. Tentu saja, porsi praktiknya dapat disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing.

Cuplikan salah satu petunjuk latihan

Soal mendekat kepada Tuhan, sebagaimana judul tulisan ini, aku percaya bahwa setiap perjalanan positif sejatinya adalah proses menuju ridha-Nya. Keberhasilan kita menjadi pribadi yang lebih baik bergantung pada seberapa besar kita mau dan mampu memaknai setiap prosesnya. Pada dasarnya, kehidupan yang kita jalani detik ini adalah ziarah panjang menuju keabadian.

Alih-alih terburu-buru untuk segera menjadi yang terbaik, akan jauh lebih indah jika kita menikmati dan memaknai setiap prosesnya. Karena itu, selain membaca buku-buku motivasi, novel ini sangat layak untuk dibaca.

Rekomendasi untuk Siapa?

Buku ini tentu aku rekomendasikan kepada saudara-saudara umat Kristiani/Katolik, kepada mereka yang sedang tergesa-gesa mencapai sesuatu, dan kepada mereka yang merasa jauh dari Tuhan. Novel ini secara eksplisit diperuntukkan bagi pembaca usia 17+, karena membutuhkan pemikiran yang cukup dewasa.

Terakhir dariku: nikmatilah setiap proses perjalanan menuju mana pun, termasuk perjalanan hidup ini. Sesungguhnya, Tuhan itu ada di mana-mana; Ia lebih dekat dari denyut nadi yang berdetak setiap waktu.

Sekian tulisan kali ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya~

Bagaimana pendapatmu tentang tulisan ini?

Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...