Halo! Kembali lagi di kolom review. Kali ini aku akan mengulas salah satu novel berjudul “Please Look After Mom” karya Kyung Sook Shin. Jadi, novel yang aku baca ini merupakan karya terjemahan yang diterbitkan pertama kali di Korea oleh Changbi Publishers pada tahun 2008. Sedangkan aku membaca cetakan kesepuluh yang diterbitkan pada tahun 2022 dari penerbit PT Gramedia Pustaka Utama dengan Tanti Lesmana sebagai penerjemahnya. Sedikit cerita mengapa aku membaca dan membeli buku ini adalah karena aku cukup tertarik dengan sepenggal cuplikan yang tertera di belakang buku. Aku memutuskan untuk membelinya di rentang harga 50 ribu dengan harga asli 70 ribu untuk Pulau Jawa, sebab pada saat itu aku mendapatkan potongan harga. Apakah novel ini layak untuk dibaca? Simak ulasannya berikut ini ~
Jadi novel ini bercerita tentang apa?
Novel ini mengisahkan tentang keluarga
yang kehilangan sosok Ibu akibat tertinggal di Stasiun Seoul, di mana pada
mulanya sepasang suami-istri berencana untuk mengunjungi anak-anak mereka yang
telah dewasa. Akibat tertinggalnya tokoh ‘ibu’, rencana perjalanan itu menjadi
malapetaka yang traumatis bagi anggota keluarga. Alur novel diawali dengan
usaha pencarian yang dilakukan oleh anggota keluarga, yang terdiri dari 4 orang
anak dan seorang suami sekaligus ayah dari keempat anak tersebut. Di sela-sela
pencarian, memori tentang tokoh ‘ibu’ kembali bermunculan. Setiap anggota
keluarga memberikan sudut pandang berbeda terhadap tokoh ‘ibu’ yang kemudian
dikemas ke dalam bagian-bagian terpisah.
Terdiri dari 5 bagian, bagian
pertama menceritakan sudut pandang anak tengah bernama Chi-Hoon terhadap tokoh
‘ibu’. Lalu bab berikutnya giliran anak sulung, Hyong-Chol, yang memberikan kesannya.
Sudut pandang seorang suami sekaligus ayah juga dimunculkan di bagian ketiga,
menambah nuansa kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam. Bagian keempat
justru menampilkan sudut pandang dari tokoh ‘ibu’ itu sendiri, tentang
bagaimana selama ini ibu memandang setiap anggota keluarganya dan mengungkap
sisi yang belum pernah diketahui oleh mereka. Ditutup dengan epilog yang
berjudul “Rosario dari Kayu Merah”, bagian terakhir berupaya untuk
menggambarkan keadaan pasca hilangnya sosok ibu dalam keluarga.
Novel yang memiliki jumlah
halaman 296 ini menyuguhkan karakter yang khas dari setiap tokoh. Mulai dari
karakter ibu, ayah, anak sulung, anak tengah, hingga anak bungsu. Karakter lain
di samping keluarga inti ialah bibi atau kakak perempuan dari pihak ayah yang
sangat ditakuti oleh ibu. Namun menunjukkan sikap yang jauh berbeda ketika
tokoh ‘ibu’ tak kunjung ditemukan. Adapula Kyun, adik laki-laki dari pihak ayah
yang telah dianggap seperti anak sendiri oleh ibu. Selain itu, ada ‘Lee
Eun-Gyu’, pria misterius yang ternyata memiliki hubungan dekat dengan ibu.
Beragam tokoh yang dihadirkan dalam cerita, termasuk karakter pendukung seperti
orang-orang yang ditemui dalam usaha pencarian ibu menjadikan novel ini semakin
kaya akan variasi karakter.
Apa Kelebihan dan Kekurangan Novel ini?
Telah disebutkan sebelumnya bahwa
novel ini menawarkan variasi karakter, dan tentu saja kelebihan ini masih belum
cukup. Adapun kelebihan lainnya adalah novel ini menggunakan kata ganti orang yang
cukup beragam. Misalnya pada bagian pertama, penulis menggunakan kata ganti
orang kedua “kamu.” Penggunaan kata “kamu” dalam bab pertama novel ini memberikan
nuansa kedekatan dengan pembaca, seolah-olah penulis ingin mengajak pembaca
untuk ber-interaksi secara langsung dengan peristiwa yang terjadi dalam novel.
Sayangnya, sudut pandang yang beragam juga terkadang membuat pembaca menjadi
bingung. Pembaca seakan-akan diajak untuk menebak karakter yang sedang
dibicarakan oleh penulis.
Selain karakter dan juga kata
ganti orang, novel ini juga memiliki kelebihan dengan gaya Bahasa yang mudah dicerna.
Walaupun demikian, masih ada beberapa kata asing yang luput dari pengertian
atau definisi sederhana, yang mungkin dapat membantu pembaca untuk meng-imajinasikan
penggambaran penulis dalam novel. Karena bagi orang awam yang tidak terlalu
mengenal budaya Korea, akan memerlukan banyak waktu untuk memahami apa yang
dimaksud dengan kimchi, doenjang, hanbok¸ dan lain-lain.
Ohya. Setiap bagian dari novel ini juga saling berhubungan satu
sama lain. Bahkan di akhir bagian yang menuju klimaks, penulis tidak
melanjutkannya dalam satu bagian yang sama, melainkan disambungkan ke bagian
berikutnya. Kelebihan ini membuat para pembaca jadi penasaran dengan kelanjutan
jalan cerita. Tidak hanya itu, novel ini menggunakan alur campuran, di mana
penulis berusaha untuk menghubungkan kejadian di masa sekarang (masa modern) dengan
masa lampau (masa perang Korea). Walaupun penulis memberikan penanda tentang
pergantian masa, novel ini tetap perlu dibaca dalam kondisi fokus atau
konsentrasi yang baik. Alasannya karena, apabila novel ini dibaca secara
sepenggal-sepenggal, maka narasi yang berusaha disampaikan khawatirnya tidak
dapat dipahami secara utuh.
Masih dari segi alur, novel ini
memiliki alur yang cukup stabil. Artinya, permasalahan-permasalahan klimaks
akan lebih sering muncul menjelang akhir bagian. Meskipun diawali dengan
konflik yang kompleks di mana tokoh ‘ibu’ digambarkan menghilang, akan tetapi
kesan-kesan dari setiap anggota keluarga dapat menjaga alur tetap stagnan. Ini
yang mungkin bisa membuat para pembaca merasa bosan sebelum menuju akhir
bagian.
Apa Hal Menarik dari Novel ini?
Bertemakan kekeluargaan, novel
ini berusaha mendekatkan jalan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun berlatar
di Korea, beberapa deskripsi novel terasa relevan dengan kebiasaan masyarakat
umum. Misalnya, ada momen ketika seseorang ingin mengambil sesuatu dari kulkas
tiba-tiba lupa hendak ingin mengambil apa setelah membuka pintu lemari es. Terdapat
pula kejadian seperti pasangan suami-istri yang tidak berjalan ber-iringan, di
mana biasanya laki-laki berjalan lebih cepat dan mendahului pasangannya, serta
momen-momen unik lainnya.
Tidak hanya dari segi jalan cerita, novel ini juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan unik yang selama ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Misalnya, “Apakah selama ini ibu menyukai dapur?” yang berusaha merefleksikan peran ibu yang identik dengan tugas dapur. Ada juga pertanyaan seperti, “Apakah ibu memiliki mimpi sebagaimana seorang wanita pada umumnya?” yang berupaya mengulik rahasia-rahasia baru tentang ibu, serta pertanyaan-pertanyaan bersifat reflektif lainnya. Novel ini kemudian menjadi semacam media untuk berkaca tentang seberapa kenal dan seberapa dekat kita dengan sosok ibu.
Nah, ada satu hal lagi yang bagiku menarik untuk diulas dari novel ini, yaitu upaya untuk mengkritik potret
patriarki seorang perempuan atau ibu. Definisi patriarki sejatinya sangat
beragam, merujuk pada akademisi yang memandang berbeda terhadap konsep
tersebut. Dalam buku yang berjudul “Sexual Politics”, Millett menerjemahkan
patriarki sebagai supremasi laki-laki atas perempuan. Lebih lanjut, Millett berpendapat
bahwa keluarga merupakan manifestasi institusi patriarki. Selain itu, Millett
menyatakan bahwa keluarga mendorong anggotanya untuk menjalankan peran yang
terkait dengan gender, yang melanggengkan posisi subordinat atau inferior perempuan
dalam lingkup keluarga (Hoque, 2021 hlm. 2).
Dalam novel ini, penulis
menggambarkan sosok ibu sebagai pekerja keras yang berupaya memenuhi kebutuhan
anggota keluarganya. Tokoh ‘ibu’ diilustrasikan sebagai seseorang yang selalu
siap memberikan dukungan, baik secara emosional maupun materiil kepada keluarga.
Beberapa cuplikan dari novel bahkan secara spesifik menarasikan peran penting
ibu terhadap masing-masing anggota keluarga, tentunya dengan perlakuan yang
berbeda. Namun, suasana menjadi berbanding terbalik ketika tokoh ‘ibu’ tidak
juga ditemukan. Dalam suatu momen khusus, seorang ayah yang sekaligus seorang
suami menjadi seolah-olah tidak berdaya untuk menjalani kehidupan tanpa
pasangannya. Ketidakberdayaan seorang ayah untuk berfungsi tanpa ibu menunjukkan
ketergantungan emosional yang sering kali tidak diakui dalam sistem patriarki,
di mana laki-laki dianggap kuat dan mandiri. Hal ini memperlihatkan sisi kerapuhan
yang dialami oleh anggota keluarga pasca menghilangnya ibu di stasiun Seoul.
Narasi-narasi tentang pengandaian
“jika ibu tidak hilang” oleh setiap anggota keluarga menjadi titik di mana
mereka menyadari betapa krusialnya sosok ibu dan begitu banyaknya jalan
kehidupan yang telah dilalui hingga ibu sampai pada posisi ini. Narasi tersebut
seakan memperkuat kesan bahwa selama ini keluarga terlalu menempatkan ibu di
posisi yang mungkin tidak diinginkannya, khususnya dalam hal pekerjaan domestik.
Meskipun dalam beberapa momen tokoh ‘ibu’ sering kali menyiratkan kerelaannya
dalam mengelola urusan rumah tangga, hal ini menjadi semacam tamparan untuk
menyadari hal-hal yang selama ini tidak sama sekali dibicarakan oleh ibu di
depan keluarganya. Misalnya, tentang mimpi, di mana setiap orang pada umumnya
memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang ingin dicapai. Namun bagi ibu, mimpi
adalah suatu hal yang masih berhubungan dengan keluarga, kesuksesan anak,
kesehatan pasangan, dan lain-lain. Jarang sekali ibu membicarakan impiannya sebagai
seorang perempuan sekaligus individu yang berdaulat.
Pada akhirnya, novel ini memberi
ruang bagi para pembaca untuk mempertanyakan kembali kedudukan ibu dalam
keluarga. Ketergantungan terhadap peran ibu yang identik dengan urusan domestik
membuat anggota keluarga pada umumnya abai terhadap kontribusi dan pengorbanan
yang telah dilakukan, sehingga ibu dalam keluarga sering kali tidak mendapatkan
pengakuan atas haknya sebagai manusia biasa. Sikap ini masih banyak ditemui di
masa kini, di mana ibu tidak memiliki pilihan lain selain mengurus pekerjaan
domestik. Padahal sebagai seorang individu, ibu memiliki hak yang sama
sebagaimana anggota keluarganya yang merupakan manusia pada umumnya. Dengan pemahaman
seperti ini, penulis melalui novelnya berusaha membangun kesadaran tentang sosok
ibu yang sering dilupakan, yang tidak mesti menggantungkan seluruh kehidupannya
untuk keluarga, terlebih pekerjaan rumah tangga. Artinya, ibu dalam kehidupan
nyata juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan minatnya, mencapai tujuan
hidupnya, dan mewujudkan hal-hal yang ingin dilakukannya.
Rekomendasi untuk siapa?
Dengan hikmah kehidupan yang
sangat relevan, novel ini layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan kelompok,
mulai dari remaja sekolah, perempuan-perempuan aktivis, laki-laki pekerja, dan
lain sebagainya. Novel ini sejatinya bisa menjadi pelajaran berharga bagi
setiap orang untuk menghormati kedudukan masing-masing dalam kehidupan
sehari-hari. Terlepas dari batasan usia pembaca 17 tahun ke atas, novel ini
memberikan sudut pandang tentang peran dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan
dalam masyarakat. Terakhir, novel ini juga mendorong para pembaca untuk
merenungkan kembali hubungan antar anggota keluarga dan nilai-nilai
kemanusiaan, sehingga setiap orang dapat menyadari dan memahami pentingnya
saling mendukung dalam keluarga.
Sekian dari ulasan novel kali
ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya ~
Referensi
Hoque, M. (2021). Patriarchy:
Meaning, Origin, Theories, and Relationship with SDG10. (August), 641–651.
https://doi.org/10.1007/978-3-319-95882-8_135
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar