Hai! Kembali lagi di tulisanku yang ke-sekian. Lagi-lagi topik utama yang
aku angkat dalam tulisan ini adalah murni karena keingintahuanku, dan akan
lebih bermanfaat lagi jika aku bisa membagikannya kepada teman-teman semua. So, akhir-akhir ini di media sosial, ada
suatu tren bernama “we listen we don’t judge.” Ada dua macam cara main yang
umum dilakukan dalam tren ini, pertama, teknis yang melibatkan beberapa orang
yang duduk bersama kemudian mengucapkan kalimat “we listen we don’t judge” secara
serentak. Lalu masing-masing orang akan bergilir membagikan sesuatu yang mungkin
belum pernah diketahui oleh peserta lainnya. Setelah membagikan sesuatu,
peserta lain yang mendengarkan menurut aturan mainnya tidak diperbolehkan untuk
memberikan tanggapan termasuk kritik dan komentar. Cara main seperti ini biasa
ditemukan di media sosial yang output-nya
berupa konten video, contohnya TikTok, Instagram, dan lain sebagainya. For your information, tren ini dimulai
dalam bentuk konten video, dan bentuk konten seperti ini menjadi visualisasi
yang umum dibayangkan jika membicarakan tentang tren “we listen we don’t
judge.”
Selain banyak ditemukan di TikTok dalam bentuk konten video, tren “we
listen we don’t judge” juga cukup populer di beberapa media sosial lain,
seperti Twitter X, Instagram, atau Facebook. Teknisnya dimulai dari seorang
pengguna media sosial yang memantik topik tertentu dengan kata kunci “we listen
we don’t judge.” Biasanya, pengguna lain akan tertarik untuk mengikuti
pembahasan dengan memberikan pandangan berupa komentar. Misalnya, seorang
pengguna media sosial membuat sebuah kiriman konten di Twitter X dengan judul
“we listen we don’t judge tentang kehidupan karyawan.” Pengguna media sosial
tersebut biasanya akan mengawali dengan memberikan pandangannya, atau sebatas
memberikan pemantik untuk diikuti oleh pengguna lain. Semakin menarik topik
yang diangkat, semakin ramai pengguna media sosial yang terlibat dalam arus
percakapan. Kecenderungan ramai – sepinya suatu percakapan dalam media sosial
dapat dilihat dari jumlah komentar, likes,
dan repost atau retweet dari setiap kiriman. Menurut pengamatanku, selain dari segi
topik yang menarik, pengguna media sosial akan banyak terlibat dalam arus
percakapan jika topik atau pernyataan yang disampaikan relevan untuk
menggambarkan kondisinya saat ini. Hal ini berlaku di kedua cara bermain yang
telah disebutkan di atas.
Dengan teknis yang sederhana, tren ini berhasil menarik perhatian warga
di media sosial dan diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari yang terikat
dalam hubungan keluarga, rekan kerja, rekan sekolah, dan lain sebagainya. Menariknya,
tren ini ternyata memiliki dampak sosial yang cukup signifikan. Lebih lanjut
mengenai dampak sosial dari tren “we listen we don’t judge” akan dibahas di
bawah ini, simak terus yaa~
Sejujurnya saat tulisan ini dibuat, sulit menemukan penelitian ilmiah
yang membahas tentang tren “we listen we don’t judge”. Syukurnya, ada beberapa
tulisan internet yang tetap relevan untuk dieksplorasi. Naah, dari berbagai bacaan
internet yang aku temukan, berikut adalah dampak sosial dari tren “we listen we
don’t judge.”
DAMPAK SOSIAL
Pertama, tren yang bermula dari media sosial TikTok ini telah menjelma menjadi gaya komunikasi alternatif generasi masa kini. Tren “we listen we don’t judge” memberi pelajaran segar tentang interaksi sosial di mana percakapan sehari-hari menjadi ruang aman tanpa penghakiman. Dengan mendorong interaksi sosial semacam ini, setiap orang akan merasa nyaman untuk berbagi dan mengapresiasi setiap pandangan tanpa mengkhawatirkan “siapa yang benar” dan “siapa yang salah.” Pada akhirnya, langkah apresiatif yang terkandung dalam tren ini juga dapat menumbuhkan sikap empatik terhadap orang lain, memberikan penghargaan dan pengakuan atas pendapat yang disampaikan.
Kedua, tren “we listen we don’t judge” sebagai wadah aman untuk berbagi juga dapat memberdayakan keterbukaan dan kejujuran dari setiap orang yang berpartisipasi atas perasaan maupun pengalaman mereka. Dengan gaya komunikasi yang terbuka dan jujur, setiap orang akan memiliki kesempatan untuk menjalin relasi yang tulus dan kokoh. Inilah yang dalam jangka panjang dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan saling menerima satu sama lain.
Dari sedikit penjelasan di atas, dapat ditarik garis besar bahwa tren ini
telah menjadi media komunikasi pilihan, di mana kegiatan mendengarkan secara
aktif tanpa menghakimi menjadi fondasi dalam ber-interaksi. Menurut Marshall Rosenberg, seorang Psikolog Amerika dalam bukunya yang berjudul Nonviolence Communication, semua penghakiman
atau penilaian itu mencelakakan dan cara terbaik untuk menhubungkan diri dengan
orang lain adalah melalui empati dan perasaan saling mengasihi.
Seringkali kita menemukan atau mengalami secara pribadi interaksi-interaksi
yang hanya berfokus pada penghakiman atau penilaian. Akibatnya, masing-masing
dari kita mungkin luput dari rasa saling menerima atas inti pembicaraan,
tentang sudut pandang yang berusaha diekspresikan oleh lawan bicara. Nah, tren
“we listen we don’t judge” hadir untuk mengingatkan tentang karakter inklusif
atau tenggang rasa, suatu karakter yang menunjukkan sikap menerima,
menghormati, menghargai, dan memahami sudut pandang orang lain.
KRITIK
Walaupun membawa dampak yang cukup berarti dalam kehidupan sehari-hari, nyatanya
tren “we listen we don’t judge” juga tidak terlepas dari kritikan. Salah satu
kritikan yang paling menonjol adalah tentang ilusi sosial, bahwa tren ini menawarkan
ruang aman yang palsu atau buatan. Menurut salah satu bacaan yang dimuat di sini,
tren “we listen we don’t judge” sejatinya tidak se-jujur dan se-transparan itu.
Alasannya karena pengungkapan yang dilakukan sekadar untuk memberikan
pengakuan di masa lalu, atau sekadar untuk dijadikan sebagai bahan konten media
sosial. Maka kemudian sulit untuk menilai kejujuran yang disampaikan,
meskipun secara teknisnya memberikan penilaian terhadap pernyataan dalam tren
ini sepenuhnya dilarang.
Bagiku sendiri, tren ini memang cukup kreatif dan menghibur. Pasalnya,
sebagian dari kita mungkin merasa relate dengan
apa yang diungkapkan oleh para pembuat konten, misalnya berkaitan dengan posisi
kita sebagai seorang mahasiswa, atau sebagai seorang anak dalam ikatan keluarga
dan posisi-posisi lainnya. Namun yang luput dari perhatian adalah pertanyaan tentang
“apakah tren ini benar-benar membawa komunikasi menjadi lebih sehat?”, “apakah
tren ini benar-benar membawa dampak positif yang berkelanjutan?”
Sederhananya, apabila tren ini dibungkus dalam bentuk konten yang
kemudian disebarluaskan di berbagai media sosial, aku cukup pesimis dengan
tindakan setelah tren ini dieksekusi. Pertanyaan yang muncul adalah, “apakah
tren ini menjamin hubungan mereka semakin erat, mengingat ada beragam pengakuan
yang sedikit banyak belum pernah diketahui oleh masing-masing partisipan?” Keberadaan
tren yang melarang penghakiman atau penilaian mungkin berdampak baik,
memberikan kesempatan setiap orang untuk berbicara tentang perasaannya,
kemudian sebagai penerima informasi kita hanya perlu memvalidasi. Akan tetapi, “apakah
komunikasi dengan cara demikian dapat menjamin terselesaikannya masalah?” Dalam
memberikan efek lega atau lapang, mungkin saja iya. Namun untuk membangun
komunikasi yang konstruktif aku cukup ragu, sebab komentar atau tanggapan dari
lawan bicara justru tidak diperbolehkan.
Menurut Joanie V. Connors, komunikasi yang konstruktif tidak hanya
menunjukkan sikap segan dan saling mendukung terhadap perspektif masing-masing
orang, tetapi juga membangun pemahaman yang detail dan saling berbagi informasi
yang jelas. Jika dalam tren “we listen we don’t judge” suatu tanggapan tidak
diperbolehkan, pertanyaannya adalah, “bagaimana kita dapat memperoleh informasi
lanjutan mengenai sudut pandang yang telah diungkapkan?” Terkadang,
tanggapan itu dibutuhkan bukan untuk memberikan penilaian atau penghakiman,
tetapi untuk mendapatkan kejelasan informasi, supaya pernyataan ambigu
tidak secara mudah ditelan mentah-mentah. Dan tentu saja, menerima informasi
yang jelas menjadi penting keberadaannya dalam komunikasi untuk menghindari
salah paham berkelanjutan. Hal ini bisa saja dihindari apabila tren “we listen
we don’t judge” tidak melarang tanggapan atau setidaknya memberi kesempatan
pada partisipan lain untuk mendapatkan informasi yang dirasa masih samar.
Kritik lain tentang tren “we listen we don’t judge” aku datangkan dari
sudut pandang agama Islam. Dalam Bahasa Arab, ada suatu istilah bernama “aib”
yang artinya merujuk pada cacat, kekurangan, atau hal yang tidak diinginkan
diketahui orang lain. Aib, umumnya merujuk pada sesuatu yang rahasia,
sebab landasan logikanya adalah setiap kekurangan tidak mungkin secara terang-terangan
dibagikan kepada orang lain. Kecuali atas alasan tertentu misalnya untuk
mendapatkan saran dari ahli atau alasan-alasan lain yang memang ada kebutuhan
untuk membagikan “aib” dan jika tidak dilakukan akan berdampak pada kurang
memadai dan tepatnya saran yang diberikan.
Dalam konteks tren “we listen we don’t judge”, sulit untuk
mengidentifikasi apakah pernyataan yang dibagikan merupakan aib atau bukan. Seseorang
menganggap suatu hal adalah aib berdasarkan kepercayaan atau persepsi yang
diyakini. Contohnya, seseorang menganggap bahwa tidak bisa berhitung merupakan
aib yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Namun bagi sebagian orang
mungkin hal tersebut bukanlah aib. Aib bukan perkara tunggal, dia bisa hadir
seiring dengan hal-hal yang memengaruhi kehidupannya. Namun kali ini aku akan
fokus pada pembahasan tentang potensi aib dalam konteks tren “we listen we don’t
judge.”
Aku menganggap bahwa tren ini memiliki potensi untuk membagikan aib. Salah
satu bacaan yang aku temukan berkata bahwa, informasi yang diungkapkan biasanya sesuatu yang
rahasia, memalukan, bahkan semacam pengakuan yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Jika tren “we listen we don’t judge” dipahami dan diaplikasikan
seperti ini, maka ada kemungkinan bahwa informasi atau pernyataan yang
disampaikan merupakan aib. Namun patut diingat kembali bahwa perihal aib atau
bukan itu berdasar pada keyakinan masing-masing orang. Artinya, tidak bisa
sepenuhnya melabeli bahwa setiap pernyataan yang diungkapkan dalam tren ini
merupakan aib.
SARAN
Ada beberapa saran yang mungkin bisa aku rekomendasikan tentang cara
untuk menyikapi tren ini. Tujuan dari bagian konten ini adalah supaya
teman-teman bisa menjadi lebih bijak jika menjumpai permasalahan yang serupa.
Pertama, walaupun tren “we listen we don’t judge” menuai beragam kritik,
bukan berarti tren ini sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat. Alternatifnya,
tren ini tetap bisa digunakan sebagai media hiburan untuk menghilangkan
kejenuhan. Tidak harus menghasilkan output
berupa konten, tren ini juga bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya untuk mencari tahu sudut pandang seseorang mengenai topik tertentu.
Selain membawa nuansa segar dalam aktivitas media sosial, tren ini juga
populer dengan tagline-nya yang tidak
memperbolehkan untuk memberikan tanggapan. Namun aku berpikir bahwa tren ini
masih bisa dimodifikasi dengan menyesuaikan situasi. Misalnya, walaupun tren
ini umumnya tidak memperbolehkan untuk memberikan tanggapan, bukan berarti
tanggapan di sini sepenuhnya dilarang. Artinya, ketika kita menggunakan
tren ini, kita masih bisa memberikan kesempatan untuk menanggapi bukan dalam
bentuk penilaian atau penghakiman, tetapi semata-mata untuk memperoleh
informasi tambahan guna mencegah salah paham. Atau cara lainnya adalah, setiap
pernyataan yang diungkapkan harus detail dan menghindari penggunaan kata-kata ambigu.
Terakhir, saran yang paling bijak menurutku adalah jangan terlalu impulsif
atau terprovokasi untuk mengikuti tren ini. Telah dibahas sekilas bahwa tren
ini mengandung potensi aib. Apabila teman-teman ragu akan potensi aib, meninggalkan
tren ini adalah salah satu sikap yang bisa diambil. Sebab penggunaan identitas
samaran atau anonim-pun belum tentu menjamin keamanan rekam jejak yang ada. Dan
pada akhirnya, hal-hal yang berkaitan dengan dunia maya, khususnya media
sosial perlu disikapi dengan kehati-hatian.
Cukup sekian dari tulisan kali ini, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan berikutnya ~
https://kumparan.com/njlarafeyfaasylaa/we-listen-we-dont-judge-trend-is-changing-to-understand-the-relationships-245GMv4Eu1C/full
https://www.medcom.id/gaya/community/ybJ3Oy6k-viral-di-tiktok-apa-itu-tren-we-listen-and-we-don-t-judge
https://nonviolentcommunication.com/
https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/we-listen-and-we-dont-judge-a-therapists-take-on-the-trend-gone-viral-on-social-media/articleshowprint/116408750.cms
https://ftw.usatoday.com/2024/11/tiktok-we-listen-we-dont-judge-viral-trend
Constructive Communication by Joanie V. Connors, Ph.D. Desert Exposure, www.desertexposure.com June-July, 2013

Komentar
Posting Komentar