Langsung ke konten utama

Postingan

IQRO’: Bacalah Petunjuk Tuhan – Refleksi Membaca Novel Sang Alkemis

Setelah sebelumnya menamatkan novel  Ziarah , kini giliran Sang Alkemis yang akan aku "kuliti" di tulisan ini. Jujur, novel sebelumnya masih sangat membekas. Ingatan tentang latihan ketabahan dalam menjalani proses perjalanan panjang menuju diri yang lebih utuh masih terngiang-ngiang. Membawa memori tersebut, aku tentu menaruh ekspektasi cukup tinggi pada karya Coelho berikutnya. Cover depan novel Sang Alkemis Sama seperti tulisan sebelumnya, aku tidak akan menceritakan ulang cerita yang sama kecuali jika ada hal yang benar-benar berbeda. Kalaupun ada, aku justru ingin bercerita tentang bagaimana lingkungan sekitarku seolah perlahan menuntunku pada novel ini. Beberapa waktu lalu, saat sedang menikmati euforia acara Semesta Buku di Surabaya tahun 2025, aku memotret tumpukan buku yang rencananya ingin kubeli, salah satunya Sang Alkemis . Foto itu kupajang di media sosial. Seorang teman dekat membalas story tersebut dan bilang kalau dia sangat ingin membaca novel itu. Say...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...

Pangeran Kecil itu Kita: Catatan Baca Novel Le Petit Prince

Aku sempat bingung mau memulai tulisan ini dari mana. Karena jujur, setelah membaca buku imut ini untuk pertama kalinya, aku masih belum sepenuhnya paham dengan jalan ceritanya. Aku perlu membacanya untuk kedua kali, bahkan harus bercakap-cakap dengan AI (Gemini) untuk menemukan pencerahan, dan baru setelah itu aku mulai paham. Novel karya Antoine De Saint-Exupery ini konon menjadi salah satu buku yang paling banyak dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Alasan inilah yang paling mendasari mengapa aku membeli buku ini saat pameran buku di toko ‘Solusi Buku’, aku lupa nama pamerannya. Kalau boleh diingat, pamerannya tidak begitu besar dan buku yang mendapatkan potongan harga juga tidak banyak. Novel ini aku dapatkan di bawah harga pasaran Pulau Jawa sebesar Rp59 ribu , tapi yang kuingat potongan harganya juga tidak begitu besar. Jadilah membeli buku ini karena harganya yang paling terjangkau. Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1943 ini kebetulan...

Mulutmu Harimaumu: Refleksi Kritis Novel Lelaki Harimau

Siapa yang masih ingat makna peribahasa “mulutmu harimaumu”? Iya, kurang lebih peribahasa ini mengingatkan bahwa setiap ucapan dan sikap yang tidak dipikirkan serta dijaga dengan baik dapat berbalik menjadi senjata makan tuan. Rasa-rasanya, deskripsi singkat ini sangat pas untuk membuka ulasan buku kali ini. Beberapa waktu lalu, aku akhirnya berhasil menamatkan novel berjudul Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Ada banyak hal yang ingin aku bagikan di sini, mulai dari bagaimana aku mengadopsi buku ini hingga jejak bacaku dengan penulis Eka Kurniawan. Aku membeli buku ini di sebuah pameran buku Gramedia dengan harga diskon yang seingatku tidak sampai Rp100 ribu ( harga normalnya sekitar Rp149 ribu untuk Pulau Jawa ). Dari sekian banyak buku lain yang terpajang, mataku tertuju pada buku ini. Alasan pertamanya tentu menyambung jejak bacaku dengan Eka Kurniawan. Ini adalah novel kedua Eka yang aku khatamkan setelah Cantik itu Luka . Jika ada beberapa kata yang mampu mendeskripsikan n...

Tapi ini Bukan Hanya tentang Binatang: Refleksi Otoritarianisme dari Animal Farm

Syukur Alhamdulillah kepada LPDP dan seluruh rakyat Indonesia, karena melalui-nyalah aku bisa membeli dan membaca buku Animal Farm ini. Lega rasanya akhirnya bisa mengkhatamkan buku yang sangat sering direkomendasikan banyak orang, buku yang bisa ditemukan di hampir setiap sudut toko maupun pameran buku dengan berbagai versi cetakannya. Seperti ulasan buku yang sudah-sudah, aku ingin menceritakan sedikit latar belakang bagaimana aku mendapatkan buku ini. Aku membelinya di pameran buku yang berlokasi di Gelanggang Inovasi Kreativitas (GIK) UGM dengan harga diskon menjadi Rp40.000 dari harga normal sebesar Rp56.000 . Buku ini tidak terlalu mahal dan tidak pula tebal jika dibandingkan dengan karya-karya George Orwell lainnya. Dari sekian banyak pilihan sampul, aku memilih versi bersampul hijau karena satu alasan sederhana, paling murah. Alasan yang cukup berisiko sebenarnya, karena aku sempat khawatir kualitas terjemahannya kurang nyaman dibaca. Namun, aku menaruh kepercayaan pada Pene...