Langsung ke konten utama

Pangeran Kecil itu Kita: Catatan Baca Novel Le Petit Prince

Aku sempat bingung mau memulai tulisan ini dari mana. Karena jujur, setelah membaca buku imut ini untuk pertama kalinya, aku masih belum sepenuhnya paham dengan jalan ceritanya. Aku perlu membacanya untuk kedua kali, bahkan harus bercakap-cakap dengan AI (Gemini) untuk menemukan pencerahan, dan baru setelah itu aku mulai paham.

Novel karya Antoine De Saint-Exupery ini konon menjadi salah satu buku yang paling banyak dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Alasan inilah yang paling mendasari mengapa aku membeli buku ini saat pameran buku di toko ‘Solusi Buku’, aku lupa nama pamerannya. Kalau boleh diingat, pamerannya tidak begitu besar dan buku yang mendapatkan potongan harga juga tidak banyak. Novel ini aku dapatkan di bawah harga pasaran Pulau Jawa sebesar Rp59 ribu, tapi yang kuingat potongan harganya juga tidak begitu besar. Jadilah membeli buku ini karena harganya yang paling terjangkau.

Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1943 ini kebetulan yang aku pegang adalah cetakan ke-38 (tahun 2026) dari penerbit Gramedia Pustaka Utama yang telah menerbitkan buku ini sejak tahun 2011. Ketebalannya kurang lebih sebanyak 118 halamam, terdiri atas 27 bab. Namun jangan kaget, 27 bab dalam buku ini terasa sangat singkat, tidak seperti bab pada buku-buku tebal pada umumnya. 

Bagaimana ulasan karya fenomenal ini? Simak terus tulisan ini ya~

Novel ini Bercerita tentang Apa?

Novel ini berpusat pada imajinasi penulis, Saint-Exupery, saat menjalankan profesinya sebagai penerbang (pilot). Diceritakan bahwa tokoh utama, seorang pilot yang sewaktu kecil gemar menggambar, mengalami kecelakaan dan mendarat darurat di Gurun Sahara karena mesin pesawatnya rusak. Di tengah keterasingan padang pasir, ia bertemu sosok bocah berambut emas yang misterius, yang kemudian dikenal dengan Pangeran Kecil.

Pertemuan awal mereka terasa rumit dan canggung. Namun perlahan, Pangeran Kecil mulai membuka diri dan menceritakan asal-usulnya. Pangeran Kecil bukanlah seseorang biasa, dia berasal dari planet yang juga kecil bernama Asteroid B-162. Meskipun demikian, dia tidak dideskripsikan sebagai alien. Pangeran Kecil bercerita tentang kehidupannya di sana, benda-benda yang ia temui, perjalanan dari satu planet ke planet lain, hingga akhirnya terdampar di Bumi.

Selama petualangannya di Bumi, dia bertemu dengan berbagai hal, seperti kebun bunga mawar, ular, hingga seekor rubah. Puncak keunikan cerita ini terletak pada interaksinya dengan para penghuni planet lain yang memiliki kepribadian aneh, serta perjumpaannya dengan si rubah di padang pasir yang kemudian mengajarinya satu hal penting, "Hanya dengan hatilah seseorang bisa melihat dengan benar, apa yang terpenting tidak terlihat oleh mata."

Novel ini mengangkat tema tentang kehidupan manusia dewasa yang sering kali luput memperhatikan hal-hal kecil, seperti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Sosok manusia dewasa di sini digambarkan sebagai entitas yang hanya mengejar materi, hingga melupakan hal-hal berharga yang tak kasat mata.

Apa Kelebihan dan Kekurangan dari Novel ini?

Karena nama besarnya yang begitu populer, aku sempat menaruh ekspektasi sangat tinggi. Dan memang, karya ini memiliki sejumlah kelebihan, hanya saja aku butuh usaha ekstra untuk mencernanya.

Dari segi penokohan, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama "aku" lewat sosok si penerbang. Seolah-olah, penulis mengajak kita menjelajahi imajinasinya secara langsung. Selain si penerbang dan Pangeran Kecil sebagai tokoh utama, hadir pula tokoh-tokoh pendamping yang sangat unik di setiap planet yang dikunjungi.

Alur cerita novel ini bergerak maju-mundur (campuran). Dari pertemuan di Sahara, cerita bergerak mundur mengulas alasan Pangeran Kecil mengembara, lalu kembali lagi ke kelanjutan interaksi dua tokoh utama. Jujur, untuk memahami alur dari novel ini aku akan bilang tidak sederhana. Kesulitanku mencerna alur di awal kemungkinan besar disebabkan oleh gaya bahasa terjemahan yang mengadopsi kesastraan tingkat tinggi. Tampaknya, tim penerjemah berupaya menjaga ekspresi kata dari teks aslinya agar pesan emosionalnya tetap tersampaikan. Kalimat-kalimatnya tampak sederhana, tetapi sarat makna implisit hingga cukup sulit ditangkap hanya dalam sekali baca. Itulah mengapa aku membaca ulang dan berdiskusi dengan AI untuk membedah maknanya.

Satu hal yang sangat menarik dari segi visual dan latar yaitu, novel ini dilengkapi dengan ilustrasi asli buatan penulisnya sendiri. Ilustrasinya sangat lucu dan sangat membantu imajinasi pembaca dalam membayangkan latar gurun maupun planet-planet kerdil tersebut. Jika penasaran, anda harus mencoba untuk membacanya.

Apa Hal Menarik dari Novel ini?

Semua hal tentang novel ini sangat menarik, hanya saja aku yang tidak mahir dalam membaca buku novel klasik. Adapun hal menarik dari novel ini adalah bagaimana penulis menggambarkan setiap karakter tokoh yang tinggal di planet-planet kerdil sebagai sifat buruk manusia. Ada planet yang dihuni oleh seorang raja yang ingin menguasai segalanya padahal tidak punya rakyat. Ada tokoh yang sombong, yang hanya ingin mendengar pujian. Ada seorang peminum alkohol yang terjebak pada lingkaran setan (minum untuk melupakan rasanya malunya karena dia peminum). Ada pula seorang pebisnis yang sangat sibuk menghitung bintang-bintang seolah-olah memiliki semuanya, dan karakter-karakter lainnya. Karakter-karakter ini menegaskan satu pandangan Pangeran Kecil bahwa orang dewasa itu sangat aneh.

Selain itu, ada juga analogi tentang "Bunga Mawar". Pangeran Kecil pergi meninggalkan planetnya karena lelah mengurus mawarnya yang banyak menuntut, menuntut untuk dilindungi, dirawat, dan lain sebagainya. Namun saat tiba di Bumi dan melihat ribuan mawar yang sama di sebuah kebun, ia sempat sedih karena merasa mawarnya ternyata tidak spesial. Di sinilah peran seekor Rubah masuk. Rubah mengajarinya tentang konsep "menjinakkan" (ikatan emosional). Ucapan Rubah menyadarkan Pangeran Kecil bahwa mawar di planetnya tetaplah yang paling berharga di seluruh alam semesta, bukan karena mawar itu langka, melainkan karena ia telah mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk merawat mawar tersebut.

Jika ditarik ke kehidupan nyata saat ini, kita, khususnya aku, sering kali merasa bahwa hidup ini biasa-biasa saja dan tidak ada spesialnya. Orang-orang yang kita temui, kesempatan yang ada, dan lain sebagainya berlalu begitu saja. 

Barangkali novel ini seolah mengajarkan bahwa kehidupan yang singkat ini tetap sangat berharga. Orang lain mungkin tidak akan pernah memahami sudut pandang kita secara utuh, begitu pula sebaliknya. Meski begitu, kita bisa belajar menghargai setiap waktu, pikiran, dan energi yang telah kita curahkan. Pengalaman setiap orang itu unik, bahkan dua orang saudara kembar sekalipun tidak akan pernah memiliki rasa dan sudut pandang yang persis sama.

Melalui novel ini, aku juga menyadari bahwa eksistensi kita mungkin tidak terasa spesial bagi sebagian orang. Namun, orang-orang yang tepat, mereka yang melihat dengan hati, akan mampu menyadari betapa unik dan berharganya diri kita.

Manusia dianugerahi kemampuan untuk merasa. Novel ini juga menjadi cermin bahwa kita mungkin pernah menjadi anak kecil yang naif dan serba ingin tahu, lalu pelan-pelan tumbuh menjadi "orang dewasa aneh" yang sibuk mengejar materi tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Le Petit Prince mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, menghargai hubungan antarmanusia, dan memaknai hidup yang sedang dijalani. Live to the fullest! Aku pikir kalimat itulah yang paling tepat untuk merangkum amanat novel ini.

Rekomendasi untuk Siapa?

Meskipun dalam ketentuannya novel ini ditujukan untuk pembaca usia 12 tahun ke atas, menurutku Le Petit Prince masih sangat bisa dinikmati oleh orang-orang dewasa seperti kita, mereka yang terlalu sibuk hingga tak lagi punya waktu untuk sekadar menikmati dan memaknai hidup. Buku ini adalah bentuk "pengakuan" sekaligus tamparan lembut bahwa kitalah manusia-manusia dewasa yang aneh itu. Dan dari Pangeran Kecil, kita bisa belajar kembali untuk melihat dunia menggunakan hati.

Sekian ulasan kali ini, sampai jumpa di ulasan berikutnya~


Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...