Siapa
yang masih ingat makna peribahasa “mulutmu harimaumu”? Iya, kurang lebih peribahasa
ini mengingatkan bahwa setiap ucapan dan sikap yang tidak dipikirkan serta
dijaga dengan baik dapat berbalik menjadi senjata makan tuan. Rasa-rasanya, deskripsi
singkat ini sangat pas untuk membuka ulasan buku kali ini.
Beberapa
waktu lalu, aku akhirnya berhasil menamatkan novel berjudul Lelaki Harimau
karya Eka Kurniawan. Ada banyak hal yang ingin aku bagikan di sini, mulai dari
bagaimana aku mengadopsi buku ini hingga jejak bacaku dengan penulis Eka Kurniawan.
Aku
membeli buku ini di sebuah pameran buku Gramedia dengan harga diskon yang
seingatku tidak sampai Rp100 ribu (harga normalnya sekitar Rp149 ribu untuk
Pulau Jawa). Dari sekian banyak buku lain yang terpajang, mataku tertuju pada
buku ini. Alasan pertamanya tentu menyambung jejak bacaku dengan Eka Kurniawan.
Ini adalah novel kedua Eka yang aku khatamkan setelah Cantik itu Luka.
Jika ada beberapa kata yang mampu mendeskripsikan novel pertama Eka itu, aku
akan bilang "novel gendeng" atau novel gila! Karena kegilaan di novel
pertamanya itulah, aku memberanikan diri mengadopsi buku kedua Eka ini tanpa
melihat sinopsisnya di internet. Aku hanya membaca sinopsis singkat di bagian
belakang buku dan membatin "Oke, yang ini boleh juga!"
Alasan
kedua, jujur saja, harganya paling terjangkau dibandingkan
buku-buku lain di pameran hari itu. Menariknya lagi, aku mendapatkan versi hardcover-nya!
Ya, walaupun untuk mendapatkannya aku harus meminta tolong petugas pameran untuk mengambilkan buku karena posisinya ada di
rak paling atas. Kalau dilihat dari memori foto yang tersimpan di HP, sudah
sekitar 7 bulan lamanya buku ini mengendap sebelum akhirnya sempat kubaca. Tapi
tak apa, seberapa pun lamanya, buku yang bernilai akan tetap terasa
istimewa kapan pun mau dibaca.
Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan telah rilis sejak tahun 2004. Edisi yang aku pegang saat ini merupakan cetakan pertama hardcover tahun 2024 dengan tebal sekitar 190 halaman dan 5 bab, jauh lebih tipis dibanding novel pertamanya. Hal lain yang bikin aku makin terkesan adalah sampul hardcover-nya yang bisa dilepas. Saat dilepas, tampak ilustrasi jejak kaki harimau dan jejak kaki manusia berwarna merah, memberi kesan nyata seperti darah. Paketnya pun sudah dilengkapi dua bookmark.
Nah, lalu bagaimana ulasan novel ini?
Mari simak sampai akhir ya!
Novel ini Bercerita tentang Apa?
Novel
ini membawa tema kehidupan yang sangat kompleks, keluarga, asmara, rahasia,
hingga trauma. Dari segi keluarga, cerita berfokus pada dinamika keluarga yang
jauh dari kata "cemara", terdiri dari ayah, ibu, serta dua anak
(laki-laki dan perempuan). Tokoh utamanya bernama Margio, anak laki-laki
pertama di keluarga ini.
Cerita
dimulai secara mengejutkan dengan kasus pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio.
Alih-alih membuat pembaca menebak-nebak tentang siapa korban dan pelakunya
(yang nyatanya sudah terpampang jelas di halaman awal), novel ini justru
mengajak pembaca menguliti setiap karakter di dalam cerita dan menerka motif yang
mendorong Margio membunuh Anwar Sadat, dengan cara digigit hingga terputus urat
lehernya. Puncaknya adalah saat Margio mengaku kepada polisi bahwa
bukan ia yang melakukannya, melainkan ada seekor harimau yang hidup di dalam
tubuhnya.
Dari
sana, alur cerita tidak berjalan datar hanya dengan menelusuri bagaimana
harimau itu ada. Eka justru menyuguhkan jalinan takdir yang sangat kompleks dan
menghubungkan setiap karakter. Jujur, ketika menulis ulasan ini aku cukup
berhati-hati karena khawatir memberikan spoiler berlebihan. Sensasi
penasaran dan berpetualang saat membaca buku ini terlalu berharga untuk
diceritakan cuma-cuma. Intinya, anda harus membaca buku ini!
Apa Kelebihan dan Kekurangan dari Novel ini?
Ada
banyak hal yang membuatku sangat bersemangat membagikan sudut pandangku sebagai
pembaca.
Pertama,
penokohan yang sangat kaya. Karakter di sini tidak dibiarkan
hanya sebagai pengisi cerita. Setiap tokoh memiliki porsi dan latar
belakangnya yang saling terhubung. Margio, misalnya, digambarkan
sebagai pemuda tangguh yang menjadi penggiring babi hebat bagi Mayor
Sadrah, seorang tokoh veteran yang membawahi sekelompok anak buah untuk menggiring babi
yang nantinya disabung dengan anjing ajak. Karakter Margio bukan sekadar
bentukan acak sang penulis, melainkan cerminan dari turunan sifat orang tuanya,
Komar dan Nuraeni, serta lingkungan tempat mereka berpindah-pindah. Ini baru membicarakan satu karakter utama, belum karakter-karakter lain yang tidak kalah unik dan menarik sejarahnya.
Kedua,
alur maju-mundur yang dinamis. Meski ada porsi di mana pembaca diajak
aktif "menjahit" sendiri jalinan adegan demi adegan dari sudut
pandang orang ketiga, cerita tetap sangat mengalir dan mudah dipahami.
Ketiga,
latar tempat yang unik dan dekat. Gambaran tempatnya terasa berada di suatu daerah, bukan pedesaan terpencil, tetapi juga bukan perkotaan modern.
Latar seperti pasar, lapangan olahraga, hingga pinggiran hutan terasa sangat
akrab dan mudah dibayangkan di dalam kepala.
Satu-satunya
hal yang ingin kutanyakan lebih lanjut (yang tidak ingin aku sebut sebagai
kekurangan, melainkan rasa penasaranku) adalah penjelasan tentang sosok harimau
di dalam tubuh Margio. Apakah itu harimau riil, jelmaan mitos, atau sekadar
ilustrasi psikologis dari amarah? Namun secara keseluruhan, gaya bahasa khas Eka
yang magis dan kaya kosakata sastrawi membuat cerita yang membumi ini terasa
begitu berjiwa.
Apa Hal Menarik dari Novel ini?
Membaca Lelaki Harimau bagiku tidak hanya memberi pengalaman sastra yang unik, tetapi juga menyentuh banyak hal tentang dinamika kehidupan sosial masa kini. Ada beberapa refleksi mendalam yang aku rasa sangat erat kaitannya dengan isu-isu yang sering kita jumpai sehari-hari:
Pertama, sosok harimau di dalam tubuh Margio dapat dibaca sebagai manifestasi intergenerational trauma, trauma yang diwariskan secara turun-temurun. Setelah berdiskusi dengan pasanganku, ia menarik kesimpulan menarik bahwa harimau di sini memang bukan hadir dalam wujud hewan fisik secara nyata, melainkan bentuk dari rasa trauma itu sendiri. Hal ini selaras dengan penjelasan di dalam cerita bahwa warisan harimau tersebut telah mengalir lintas generasi di keluarga Margio
Kedua, isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan ketiadaan ruang aman bagi perempuan. Nasib Nuraeni memperlihatkan betapa rapuhnya posisi perempuan dalam lingkaran hubungan yang abusif
Ketiga, relevansi peribahasa "mulutmu harimaumu" terasa makin nyata pada figur Komar
Pada akhirnya, novel ini memperlihatkan sisi kelam kehidupan bermasyarakat. Apa yang tampak dari luar ketika seseorang melangkah keluar rumah hanyalah lapisan permukaannya saja. Sayangnya, masyarakat kita sering kali bersikap apatis terhadap sinyal-sinyal kekerasan atau konflik di rumah tetangga dengan dalih "tidak mau ikut campur urusan dapur orang lain." Padahal, berbagai tragedi kerap kali meletus justru karena tiadanya empati dari lingkungan sekitar. Namun, situasi ini memang menyisakan dilema tersendiri yang memicu pertanyaan, sampai di titik mana batas etis bagi kita, sebagai tetangga atau anggota masyarakat yang baik, untuk bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain?
Rekomendasi untuk Siapa?
Novel ini berlabel 21+, karena mengeksplorasi tema-tema yang cukup kelam
dan adegan kekerasan yang intens. Maka aku tetap merekomendasikan buku ini untuk
kalian yang sudah cukup umur. Lelaki Harimau memberikan kacamata yang
sangat jujur untuk memahami perspektif masyarakat underground, kehidupan
yang nyata ada di sekitar kita, namun kerap luput dari sorotan publik.
Sekian
ulasan buku kali ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, ya!~




Komentar
Posting Komentar