Langsung ke konten utama

REVIEW ARTIKEL JURNAL “COMMERCIAL ISLAM IN INDONESIA: HOW TELEVISION PRODUCERS MEDIATE RELIGIOSITY AMONG NATIONAL AUDIENCES”

 


LATAR BELAKANG

            Media adalah alat utama dalam penyampaian informasi terkini (real time), serta alat untuk mempresentasikan suatu fenomena atau kejadian tertentu. Hal tersebut mengacu pada fungsi utama media yang selain untuk menyampaikan informasi, juga dapat berupa wadah atau jaringan yang mampu mewakili situasi tertentu. Media memiliki target untuk memuaskan para penikmatnya, khususnya pada khalayak umum yang menjadi sasaran utama media. Jadi, tak mengherankan apabila industri media sewaktu-waktu melakukan perombakan dalam ide atau gagasan supaya para penikmat media tertarik untuk tetap mengikuti keberadaan media tersebut. Seperti halnya media televisi yang akhir-akhir ini tidak hanya menayangkan liputan berita dan acara hiburan, tetapi juga progam keagamaan yang di siarkan secara khusus oleh media televisi. Hal ini kemudian menjadi sangat menarik untuk dibahas, yaitu keterkaitan antara media televisi dengan kehidupan agama. Dengan mengambil suatu wilayah tertentu dimana aspek agama menjadi objek yang intens dan kerapkali mengundang perdebatan. Indonesia adalah salah satu wilayah tersebut, dimana agama menjadi salah satu aspek yang sensitif. Apa yang kemudian akan dibahas selanjutnya adalah mengenai eksistensi media televisi yang terus melakukan perkembangan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Dikaji dengan sudut pandang neoliberalisme yang kemudian membuahkan istilah “Islam Komersial” dalam media televisi. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai hubungan media televisi dengan aspek agama di Indonesia yang mengambil rujukan utama dari jurnal yang berjudul “Commercial Islam in Indonesia: How Television Producers Mediate Religiosity among National Audiences” karya Gareth Barkin.

PEMBAHASAN

            Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki ratusan kebudayaan yang berbeda antar daerah satu dengan daerah lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia menyandang sebutan negara multikulturalis. Dengan beragam kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia, menyebabkan rawan terjadinya konflik antar daerah. Selain kebudayaan, Indonesia juga kaya akan aspek agama atau kepercayaan, meskipun hanya 5 sampai 6 agama yang diakui secara sah oleh pemerintah Indonesia. Mengingat bahwa setiap kebudayaan akan melahirkan agama atau kepercayaan yang sesuai dengan aspek budayanya, seperti adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan oleh kelompok budaya tertentu. Meskipun demikian, agama atau kepercayaan yang terbentuk akan menjadi agama minoritas. Sebab hanya beberapa penduduk lokal atau masyarakat pelosok tertentu yang mengikuti ajaran agama tersebut. Jauhnya dari perkotaan juga mengakibatkan sulitnya untuk melakukan perluasan atau mengajak khalayak umum untuk mengikuti ajaran agama minoritas tersebut. Contoh dari agama yang telahir dari budaya Indonesia adalah agama atau kepercayaan Sunda Wiwitan yang terlahir dari kebudayaan atau etnis Sunda (Irfan Teguh: 2017 dalam situs web https://tirto.id/mengenal-sunda-wiwitan-dan-agama-sunda-yang-lain-cvhD).

            Terlepas dari agama minoritas, Indonesia telah menetapkan 5 sampai 6 agama yang diakui secara hukum. Agama Islam menjadi salah satu agama yang telah ditetapkan, dan memiliki jumlah pengikut terbanyak di seluruh wilayah Indonesia. Tak mengherankan apabila kebijakan-kebijakan yang dirumuskan terkadang mencerminkan moralitas agama Islam. Secara dasarnya, agama Islam mengajarkan untuk selalu menjunjung tinggi perdamaian dan berperilaku sesuai tuturan Al-Qur’an dan Hadits. Lembaga-lembaga atau organisasi Islam di Indonesia tumbuh dengan subur, seperti halnya 2 lembaga utama Islam yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Namun, tak selamanya hal-hal positif selalu mengiringi perjalanan agama Islam dalam melakukan dakwah atau penyebaran agama Islam. Di Indonesia sendiri, ada beberapa oknum atau organisasi yang berlandaskan agama Islam akan tetapi memiliki ajaran yang keras atau radikal. Apabila terdapat sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikirannya, maka oknum tersebut tidak segan-segan untuk melakukan perlawanan atau bahkan kekerasan. Akibatnya agama Islam dianggap sebagai agama yang ekstremis dan mengerikan bagi non pemeluknya. Salah satu cara untuk mengembalikan citra positif Islam adalah dengan memanfaatkan eksistensi media, seperti media televisi.

            Eksistensi media televisi di Indonesia berkembang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Media televisi digunakan secara luas oleh khalayak umum di Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Pemanfaatan media televisi untuk membangun kembali citra positif agama Islam di Indonesia telah berlangsung lama sejak era keruntuhan rezim Soeharto. Mulanya, media televisi bersifat sekuler dan membatasi hal-hal yang berkaitan erat dengan aspek agama. Fenomena tersebut berlaku di sepanjang masa pemerintahan Soeharto. Seiring kemunduran presiden Soeharto, media televisi mulai menggaungkan keberaniannya untuk mengadakan progam yang bertema agama, terlebih lagi tema tentang agama Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia. Media televisi yang mulai merombak susunan progamnya diyakini sebagai bagian dari media televisi swasta. Ciri khas media televisi swasta adalah adanya pengiklanan yang muncul di jam-jam tayang suatu progam. Fungsi utama dari pengiklanan adalah untuk mengganti biaya penayangan suatu progam.

Orang-orang dibalik layar termasuk produser dan eksekutif berlomba-lomba dalam merancang progam yang bertemakan agama Islam. Penyebabnya yang tak lain adalah media televisi swasta yang jumlahnya semakin bertambah memunculkan persaingan antar industri media televisi swasta untuk mendapatkan pangsa yang lebih besar atau rating yang tinggi (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 31). Rating adalah jumlah pemirsa yang memilih suatu progam media televisi swasta. Rating menjadi penting sebab dapat mempengaruhi jumlah dan harga iklan di televisi (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 37). Dengan kondisi demografis yang mayoritas beragama Islam, maka terdapat tuntutan bahwa rating yang tinggi pada media televisi swasta Indonesia berdasar pada ketertarikan umat Islam terhadap progam media televisi yang di tayangkan. Hal inilah yang akan melahirkan pemahaman “Islam Komersial” di dunia media televisi.

            Pada awalnya, media televisi dibutuhkan untuk menyebarkan ajaran agama Islam yang positif. Dengan progam-progam dasar berupa do’a – do’a pagi, dakwah atau kajian Islami yang dipimpin oleh seorang pemuka agama Islam. Akan tetapi progam dasar tersebut memiliki kendala dalam penurunan rating secara signifikan. Penyebabnya bisa jadi karena progam dasar tersebut cenderung stagnan dan absennya perubahan yang pada akhirnya membuat para pemirsa mengabaikan progam dasar tersebut. Hingga kemudian progam-progam tersebut berkembang secara pesat dengan kemunculan progam drama atau sinetron yang mengusung tema Islami. Praktik-praktik ajaran agama Islam ditampilkan sedemikan rupa dalam bentuk narasi sinetron atau drama melalui media televisi swasta. Praktik-praktik ajaran agama Islam yang ditampilkan di media televisi swasta berupa praktik yang harmonis dan non-konfrontasi. Sehingga non pemeluk agama Islam pun bahkan dapat menikmatinya tanpa merasa terganggu (Gareth Barkin: 2014: 14). Selain itu, progam kuis yang secara khusus mendiskusikan tentang agama Islam juga diadakan. Progam tersebut juga muncul dalam agenda-agenda besar agama Islam, seperti perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Perkembangan ini menandakan bahwa adanya pergeseran gaya progam media televisi swasta yang secara khusus menempatkan sasarannya terhadap penduduk Indonesia yang beragama Islam. Dalam artian, semakin suatu progam menarik perhatian penduduk Indonesia yang ber-agama Islam, maka akan semakin besar keuntungan yang akan didapat akibat rating yang tinggi.

            Contoh nyata dari progam media televisi swasta yang ditayangkan untuk menarik perhatian penduduk Indonesia yang beragama Islam adalah sinetron. Kemunculan sinetron tidak serta merta menampilkan kondisi atau situasi Indonesia pada umumnya, akan tetapi juga meng-integrasikan kehidupan religius dari seorang tokoh yang berperan di dalamnya. “Para Pencari Tuhan” adalah salah satu judul sinetron yang ditayangkan oleh media televisi swasta SCTV dengan sentuhan gaya Islam-Modern. Sinetron tersebut cukup menghadirkan apresiasi yang luar biasa dari para pemirsa, khususnya penduduk Indonesia yang beragama Islam. Sebab penayangannya yang dijadwalkan pada bulan Ramadhan selalu ditunggu-tunggu oleh pemirsa setianya (Balqis Fallahnda: 2020 dalam situs web https://tirto.id/daftar-sinetron-ramadan-yang-pernah-tayang-di-televisi-fsc8).

            Terlepas dari modifikasi nyata progam media televisi swasta dalam menanggapi kebutuhan masyarakat Indonesia, tentu tak lepas dari risiko dan tanggungjawab. Pergeseran zona nyaman progam media televisi swasta menjadi progam yang menyangkut tentang kehidupan beragama memunculkan tantangan baru. Tak sembarang progam yang bernada Islam dapat ditayangkan tanpa melalui proses penyaringan yang dilakukan secara mendalam. Sebab apabila suatu progam media televisi swasta menayangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, terlebih lagi agama Islam, maka risikonya akan mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Lebih parahnya, suatu media televisi swasta akan mendapatkan tuntutan dan pencabutan atas progam yang menyalahi ajaran agama tersebut. Telah dibahas sebelumnya bahwa di Indonesia terdapat oknum-oknum dengan ajaran Islam yang keras. Konsekuensinya, media televisi swasta harus berhati-hati dalam merencanakan pengadaan progam yang bernuansa Islam. Selain itu, media televisi swasta juga dapat mengantisipasi dengan cara menghindar dari progam-progam yang mungkin akan menyinggung masyarakat Indonesia, terutama yang memeluk agama Islam (Gareth Barkin: 2014: 11).

Pokok permasalahan yang menjadi sorotan adalah tentang media televisi swasta dan keterkaitannya dengan aspek agama Islam. Sehingga muncul spekulasi bahwa media televisi swasta memanfaatkan konsumen, yaitu penduduk Indonesia yang beragama Islam dalam mendapatkan sumber pendapatan atau keuntungan. Teori Neoliberalisme kemudian menjadi sangat berguna dalam mengalisa fenomena tersebut. Asumsi dasar dari teori Neoliberalisme adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Cara untuk mendapatkan keuntungan tersebut dapat berupa memaksimalisasi kebebasan swasta (M. Qobidl ‘Ainul Arif: Catatan mata kuliah Teori Hubungan Internasional). Hal tersebut dapat ditemukan dalam fenomena media televisi swasta Indonesia yang mengupayakan perubahan gaya progam televisi menjadi progam yang membawa kehidupan beragama atas landasan kebebasan demi mencapai keuntungan maksimal.

            Dalam fenomena ini, umat Islam dianggap sebagai pasar untuk memajukan industri media televisi swasta. Selera dan perilaku umat Islam juga dianggap sebagai acuan untuk memodifikasi suatu progam media televisi swasta (Gareth Barkin: 2014: 11). Unsur agama kemudian dikonversi menjadi komoditas yang menguntungkan bagi pemilik industri media televisi swasta (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 26). Akibatnya, orientasi utama dari progam media televisi swasta mengarah pada kehidupan agama Islam di Indonesia. Preferensi atas suatu progam media televisi swasta yang kemudian digemari secara luas hingga mendapatkan rating yang tinggi selanjutnya akan dijual kepada pihak pengiklanan (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 28). Kurang lebih seperti itulah gambaran umum suatu media televisi swasta dalam meraup keuntungan. Padahal sejatinya, pemirsa televisi swasta adalah pemilik sah frekuensi yang berhak menentukan pilihannya dalam menikmati progam media televisi swasta. Namun akibat pemilik industri media televisi swasta menginginkan keuntungan yang berlimpah, pemirsa televisi kemudian menjadi korban kapitalisme dari tindakan yang diperbuatnya (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 28).

            Contoh sederhana aktivitas kapitalisme dari progam yang bernuansa Islami dalam media televisi swasta adalah penayangan progam yang membawa latar belakang Islam atau membawa isu khusus tentang Islam yang selanjutnya hasil dari penayangan tersebut akan dijual kepada pihak pengiklanan. Peran pihak pengiklanan dalam media televisi swasta menjadi sangat penting, karena pihak pengiklanan memiliki peran untuk menyokong industri media televisi swasta supaya dapat bertahan hidup (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 31-32). Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pemirsa progam media televisi swasta bernilai angka yang mampu dijual kepada pihak pengiklanan (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 37).

            Secara keseluruhan, aktivitas kapitalisme yang dilakukan oleh industri media televisi swasta tentu menyalahi etika agama yang dianggap suci. Tercantum dalam surah an-Nisa ayat 138-139, surah al-Fath ayat 28, dan surah al-Hajj ayat 41, bahwa tujuan komunikasi atau dakwah adalah memberi penjelasan, petunjuk, wejangan tentang Islam secara utuh dan untuk tujuan amar makruf nahi munkar (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 32). Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan situasi terkini dari media televisi swasta di Indonesia, bahwasannya dakwah atau penyiaran komunikasi yang dibawakan oleh seorang tokoh hanya sebagai pemanis progam semata, bukan untuk mengedukasi secara intens terhadap khalayak umum. Hingga pada umumnya sulit untuk membedakan antara progam dakwah yang benar-benar bertujuan untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat, dengan progam dakwah yang disiasati untuk mendapatkan keuntungan. Secara garis besar, progam dakwah yang hanya abal-abal akan terlihat lebih manipulatif dengan paduan progam hiburan. Akibatnya, unsur hiburan terlihat lebih menonjol dibandingkan nilai-nilai agama Islam (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 34). Inilah mengapa, esensi dari nilai-nilai ajaran agama Islam terus tergerus sepanjang waktu.

            Konten agama Islam dalam media televisi swasta juga dapat disimbolkan dengan gaya yang unik dan menarik bagi para pemirsa. Simbol-simbol ini berpengaruh besar dalam menginterpretasikan agama Islam. Seperti penggunaan Bahasa Indonesia yang mudah dipahami, kemudian pemakaian aksesoris jilbab, sarung, dan peci, serta penggunaan hiasan atau dekorasi yang dipampang secara gamblang mampu menggambarkan karakteristik agama Islam. Selain hal-hal tersebut, tema yang biasanya diangkat dalam progam agama Islam adalah tema-tema yang mudah diserap oleh khalayak umum, seperti tema kekeluargaan, rumah tangga, mendidik anak, dan lain sebagainya. Justru tema-tema yang berhubungan tentang politik, hukum, dan agama sendiri lebih dihindari. Padahal ajaran agama Islam mengatur segala aktivitas kehidupan manusia (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 34). Tentunya hal ini tak lepas dari alasan yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat, khususnya pemeluk agama Islam. Tokoh-tokoh yang mengisi suatu progam media televisi swasta dipilih dengan kriteria yang mampu menguntungkan pihak industri pengelola progam. Bukan tokoh yang berasal dari kalangan terpelajar dan memiliki kompetensi dalam agama Islam.

            Anggapan yang membenarkan bahwa memanfaatkan konsumen yang secara khususnya menargetkan komunitas Islam berdasar pada alasan dari pihak industri media televisi swasta. Anggapan tersebut berupa pemirsa komunitas Islam yang menginginkan tontonan yang relevan dengan budayanya, yakni budaya Islam (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 40). Maka dari itu, industri media televisi swasta memodifikasi serangkaian progam acaranya yang kemudian menggunakan format bernuansa Islami, meskipun kenyataanya yang muncul adalah sebaliknya atau tidak sama sekali bernada Islami.

KESIMPULAN

            Dari segala penjelasan yang telah dipaparkan di atas, terdapat kesimpulan yang secara ringkas mencakup hal-hal penting di dalamnya. Hal penting pertama yang layak digarisbawahi adalah eksistensi media televisi swasta di Indonesia yang berkembang sesuai permintaan zaman dan menyesuaikan kondisi masyarakat pada umumnya. Ditandai dengan modifikasi atau gaya baru progam-progam media televisi swasta yang mengusung kehidupan beragama. Selanjutnya, kehidupan beragama yang dimaksud ternyata ditargetkan kepada komunitas Muslim di Indonesia. Penyebabnya adalah jumlah pengikut agama Islam yang dominan dibandingkan agama lainnya. Hal ini memengaruhi peningkatan rating suatu progam media televisi swasta. Asumsi dasar dari media televisi swasta adalah bahwasannya semakin menarik suatu progam keagamaan tersebut, maka akan semakin tinggi pula angka rating yang akan dicapai oleh industri media televisi swasta tersebut. Dan semakin tinggi rating yang didapat, maka akan semakin mudah untuk menjualnya ke pihak pengiklanan.

            Mulanya, media televisi swasta hanya menayangkan progam dasar yang tidak menarik perhatian komunitas Islam di Indonesia. Seiring berjalannya waktu media televisi swasta mulai mencanangkan progam-progam terbaru yang bernuansa Islami, seperti sinetron atau drama, serta kuis. Akan tetapi kemudian progam-progam tersebut justru memicu kritik dari berbagai pihak apabila konten yang ditayangkan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

            Perspektif neoliberalisme melahirkan pemahaman baru tentang fenomena media televisi swasta dalam keterkaitannya dengan progam yang bernuansa Islami. Ialah pemahaman market based power atau komunitas Islam yang dijadikan konsumen dan sumber keuntungan utama dari pihak industri media televisi swasta. Pemirsa media televisi swasta, khususnya komunitas Islam menjadi pasar untuk meraup pendapatan secara maksimal, yang kemudian pemirsa tersebut menjadi korban dari aktivitas kapitalisme. Mengutip pada salah satu sumber ajaran agama Islam, yaitu Al-Qur’an bahwa secara garis besar media dijadikan alat untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat umum dan penyataan tersebut berbanding terbalik dengan realita di masa kini.

            Pada akhirnya, progam-progam keagamaan seperti progam dakwah dan kajian Islami ditayangkan tanpa mencakup nilai-nilai Islami. Justru tujuan utamanya hanyalah untuk menaikkan rating yang tinggi, dengan simbol, aksesoris, property, dan tokoh yang mengundang keuntungan. Alasan dari tindakan yang dilakukan oleh pihak industry media televisi swasta adalah pemirsa menginginkan tontonan yang sesuai dengan kebudayaannya, yakni kebudayaan Islam. Akibatnya, industri media televisi swasta merencanakan progam yang bernafaskan Islam.

TANGGAPAN

            Tanggapan saya pribadi atas fenomena media televisi swasta yang memanfaatkan komunitas Islam sebagai konsumen dan sumber pendapatan utama adalah, bahwasannya 2 macam kategori. Kategori yang pertama mengungkapkan bahwa media televisi swasta telah melanggar estetika dan etika ajaran agama Islam. Alasannya tentu, agama Islam bukanlah pasar yang layak dikomersilkan, akan tetapi ajaran agama yang memiliki nilai positif sesuai dengan sumber hukum Al-Qur’an dan Hadits. Terlebih lagi dalam penggunaan agama Islam dalam progam media televisi swasta yang hanya bertujuan untuk meraup keuntungan semata. Tidak akan mengejutkan lagi, apabila di generasi mendatang ajaran agama Islam semakin lenyap dan tergilas oleh media yang menutupi orisinalitas dan kebudayaan Islam. Muncul juga rasa ketidakadilan terhadap agama-agama lain di Indonesia. Akan lebih baiknya, media televisi swasta membagi porsi penayangan suatu progam keagamaan. Dengan demikian, agama atau kepercayaan lain merasa dihargai keberadaannya.

            Kategori yang kedua mengungkapkan bahwasannya tiada yang tidak dapat dilakukan untuk mencari keuntungan di masa kini. Sebab semakin kompleksnya problematika kehidupan, dan sulitnya untuk mendapatkan sepeser nilai dari kerja keras seseorang. Anggapan tersebut juga didukung oleh pendapat yang menyatakan bahwa media televisi swasta bukan hanya memfokuskan untuk memperoleh rating dan keuntungan, akan tetapi juga untuk menyebarluaskan esensi dari progam keagaamaan tersebut. Seperti situasi saat ini yang mengharuskan pembatasan kegiatan tatap muka langsung dan digantikan dengan penayangan melalui media yang tersedia. Kurang lebihnya, saya mohon maaf. Wallahu A’lam bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. Qobidl ‘Ainul. Catatan perkuliahan mata kuliah Teori Hubungan Internasional

Barkin, Gareth. 2014. Commercial Islam in Indonesia: How Television Producers Mediate Religiosity among National Audiences. International Journal of Asian Studies, 11, 1 (2014), pp. 1–24 © Cambridge University Press

Yusuf, Muhamad Fahrudin. 2016. Komodifikasi: Cermin Retak Agama di Televisi: Perspektif Ekonomi Politik Media. Interdisciplinary Journal of Communication Volume 1, No.1, Juni 2016: h. 25-42

Fahllanda, Balqis. 2020. Daftar Sinetron Ramadan yang Pernah Tayang di Televisi dalam situs web https://tirto.id/daftar-sinetron-ramadan-yang-pernah-tayang-di-televisi-fsc8 yang diakses pada tanggal 26 Oktober 2020

Teguh, Irfan. 2017. Mengenal Sunda Wiwitan dan Agama Sunda yang Lain dalam situs web https://tirto.id/mengenal-sunda-wiwitan-dan-agama-sunda-yang-lain-cvhD yang diakses pada tanggal 26 Oktober 2020

Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...