REVIEW ARTIKEL JURNAL “COMMERCIAL ISLAM IN INDONESIA: HOW TELEVISION PRODUCERS MEDIATE RELIGIOSITY AMONG NATIONAL AUDIENCES”
LATAR BELAKANG
Media adalah alat utama dalam
penyampaian informasi terkini (real time),
serta alat untuk mempresentasikan suatu fenomena atau kejadian tertentu. Hal
tersebut mengacu pada fungsi utama media yang selain untuk menyampaikan
informasi, juga dapat berupa wadah atau jaringan yang mampu mewakili situasi
tertentu. Media memiliki target untuk memuaskan para penikmatnya, khususnya
pada khalayak umum yang menjadi sasaran utama media. Jadi, tak mengherankan
apabila industri media sewaktu-waktu melakukan perombakan dalam ide atau
gagasan supaya para penikmat media tertarik untuk tetap mengikuti keberadaan
media tersebut. Seperti halnya media televisi yang akhir-akhir ini tidak hanya
menayangkan liputan berita dan acara hiburan, tetapi juga progam keagamaan yang
di siarkan secara khusus oleh media televisi. Hal ini kemudian menjadi sangat
menarik untuk dibahas, yaitu keterkaitan antara media televisi dengan kehidupan
agama. Dengan mengambil suatu wilayah tertentu dimana aspek agama menjadi objek
yang intens dan kerapkali mengundang perdebatan. Indonesia adalah salah satu
wilayah tersebut, dimana agama menjadi salah satu aspek yang sensitif. Apa yang
kemudian akan dibahas selanjutnya adalah mengenai eksistensi media televisi
yang terus melakukan perkembangan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat
Indonesia. Dikaji dengan sudut pandang neoliberalisme yang kemudian membuahkan
istilah “Islam Komersial” dalam media televisi. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai
hubungan media televisi dengan aspek agama di Indonesia yang mengambil rujukan
utama dari jurnal yang berjudul “Commercial
Islam in Indonesia: How Television Producers Mediate Religiosity among National
Audiences” karya Gareth Barkin.
PEMBAHASAN
Indonesia adalah negara kepulauan
yang memiliki ratusan kebudayaan yang berbeda antar daerah satu dengan daerah
lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia menyandang sebutan negara
multikulturalis. Dengan beragam kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia, menyebabkan
rawan terjadinya konflik antar daerah. Selain kebudayaan, Indonesia juga kaya
akan aspek agama atau kepercayaan, meskipun hanya 5 sampai 6 agama yang diakui
secara sah oleh pemerintah Indonesia. Mengingat bahwa setiap kebudayaan akan
melahirkan agama atau kepercayaan yang sesuai dengan aspek budayanya, seperti
adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan oleh kelompok budaya tertentu.
Meskipun demikian, agama atau kepercayaan yang terbentuk akan menjadi agama
minoritas. Sebab hanya beberapa penduduk lokal atau masyarakat pelosok tertentu
yang mengikuti ajaran agama tersebut. Jauhnya dari perkotaan juga mengakibatkan
sulitnya untuk melakukan perluasan atau mengajak khalayak umum untuk mengikuti
ajaran agama minoritas tersebut. Contoh dari agama yang telahir dari budaya
Indonesia adalah agama atau kepercayaan Sunda Wiwitan yang terlahir dari
kebudayaan atau etnis Sunda (Irfan Teguh: 2017 dalam situs web https://tirto.id/mengenal-sunda-wiwitan-dan-agama-sunda-yang-lain-cvhD).
Terlepas dari agama minoritas,
Indonesia telah menetapkan 5 sampai 6 agama yang diakui secara hukum. Agama
Islam menjadi salah satu agama yang telah ditetapkan, dan memiliki jumlah pengikut
terbanyak di seluruh wilayah Indonesia. Tak mengherankan apabila
kebijakan-kebijakan yang dirumuskan terkadang mencerminkan moralitas agama
Islam. Secara dasarnya, agama Islam mengajarkan untuk selalu menjunjung tinggi
perdamaian dan berperilaku sesuai tuturan Al-Qur’an dan Hadits. Lembaga-lembaga
atau organisasi Islam di Indonesia tumbuh dengan subur, seperti halnya 2
lembaga utama Islam yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Namun, tak
selamanya hal-hal positif selalu mengiringi perjalanan agama Islam dalam
melakukan dakwah atau penyebaran agama Islam. Di Indonesia sendiri, ada
beberapa oknum atau organisasi yang berlandaskan agama Islam akan tetapi
memiliki ajaran yang keras atau radikal. Apabila terdapat sesuatu yang tidak
sesuai dengan pemikirannya, maka oknum tersebut tidak segan-segan untuk
melakukan perlawanan atau bahkan kekerasan. Akibatnya agama Islam dianggap
sebagai agama yang ekstremis dan mengerikan bagi non pemeluknya. Salah satu
cara untuk mengembalikan citra positif Islam adalah dengan memanfaatkan
eksistensi media, seperti media televisi.
Eksistensi media televisi di
Indonesia berkembang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Media televisi
digunakan secara luas oleh khalayak umum di Indonesia untuk mendapatkan
informasi terkini. Pemanfaatan media televisi untuk membangun kembali citra
positif agama Islam di Indonesia telah berlangsung lama sejak era keruntuhan
rezim Soeharto. Mulanya, media televisi bersifat sekuler dan membatasi hal-hal
yang berkaitan erat dengan aspek agama. Fenomena tersebut berlaku di sepanjang
masa pemerintahan Soeharto. Seiring kemunduran presiden Soeharto, media
televisi mulai menggaungkan keberaniannya untuk mengadakan progam yang bertema
agama, terlebih lagi tema tentang agama Islam yang menjadi agama mayoritas di
Indonesia. Media televisi yang mulai merombak susunan progamnya diyakini
sebagai bagian dari media televisi swasta. Ciri khas media televisi swasta
adalah adanya pengiklanan yang muncul di jam-jam tayang suatu progam. Fungsi
utama dari pengiklanan adalah untuk mengganti biaya penayangan suatu progam.
Orang-orang dibalik layar termasuk
produser dan eksekutif berlomba-lomba dalam merancang progam yang bertemakan
agama Islam. Penyebabnya yang tak lain adalah media televisi swasta yang
jumlahnya semakin bertambah memunculkan persaingan antar industri media
televisi swasta untuk mendapatkan pangsa yang lebih besar atau rating yang
tinggi (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 31). Rating adalah jumlah pemirsa yang
memilih suatu progam media televisi swasta. Rating menjadi penting sebab dapat
mempengaruhi jumlah dan harga iklan di televisi (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016:
37). Dengan kondisi demografis yang mayoritas beragama Islam, maka terdapat
tuntutan bahwa rating yang tinggi pada media televisi swasta Indonesia berdasar
pada ketertarikan umat Islam terhadap progam media televisi yang di tayangkan.
Hal inilah yang akan melahirkan pemahaman “Islam Komersial” di dunia media
televisi.
Pada awalnya, media televisi
dibutuhkan untuk menyebarkan ajaran agama Islam yang positif. Dengan
progam-progam dasar berupa do’a – do’a pagi, dakwah atau kajian Islami yang
dipimpin oleh seorang pemuka agama Islam. Akan tetapi progam dasar tersebut
memiliki kendala dalam penurunan rating secara signifikan. Penyebabnya bisa
jadi karena progam dasar tersebut cenderung stagnan dan absennya perubahan yang
pada akhirnya membuat para pemirsa mengabaikan progam dasar tersebut. Hingga kemudian
progam-progam tersebut berkembang secara pesat dengan kemunculan progam drama
atau sinetron yang mengusung tema Islami. Praktik-praktik ajaran agama Islam
ditampilkan sedemikan rupa dalam bentuk narasi sinetron atau drama melalui
media televisi swasta. Praktik-praktik ajaran agama Islam yang ditampilkan di
media televisi swasta berupa praktik yang harmonis dan non-konfrontasi.
Sehingga non pemeluk agama Islam pun bahkan dapat menikmatinya tanpa merasa
terganggu (Gareth Barkin: 2014: 14). Selain itu, progam kuis yang secara khusus
mendiskusikan tentang agama Islam juga diadakan. Progam tersebut juga muncul
dalam agenda-agenda besar agama Islam, seperti perayaan hari raya Idul Fitri
dan Idul Adha. Perkembangan ini menandakan bahwa adanya pergeseran gaya progam
media televisi swasta yang secara khusus menempatkan sasarannya terhadap
penduduk Indonesia yang beragama Islam. Dalam artian, semakin suatu progam
menarik perhatian penduduk Indonesia yang ber-agama Islam, maka akan semakin
besar keuntungan yang akan didapat akibat rating yang tinggi.
Contoh nyata dari progam media
televisi swasta yang ditayangkan untuk menarik perhatian penduduk Indonesia
yang beragama Islam adalah sinetron. Kemunculan sinetron tidak serta merta
menampilkan kondisi atau situasi Indonesia pada umumnya, akan tetapi juga
meng-integrasikan kehidupan religius dari seorang tokoh yang berperan di
dalamnya. “Para Pencari Tuhan” adalah salah satu judul sinetron yang
ditayangkan oleh media televisi swasta SCTV dengan sentuhan gaya Islam-Modern.
Sinetron tersebut cukup menghadirkan apresiasi yang luar biasa dari para
pemirsa, khususnya penduduk Indonesia yang beragama Islam. Sebab penayangannya
yang dijadwalkan pada bulan Ramadhan selalu ditunggu-tunggu oleh pemirsa
setianya (Balqis Fallahnda: 2020 dalam situs web https://tirto.id/daftar-sinetron-ramadan-yang-pernah-tayang-di-televisi-fsc8).
Terlepas dari modifikasi nyata
progam media televisi swasta dalam menanggapi kebutuhan masyarakat Indonesia,
tentu tak lepas dari risiko dan tanggungjawab. Pergeseran zona nyaman progam
media televisi swasta menjadi progam yang menyangkut tentang kehidupan beragama
memunculkan tantangan baru. Tak sembarang progam yang bernada Islam dapat
ditayangkan tanpa melalui proses penyaringan yang dilakukan secara mendalam.
Sebab apabila suatu progam media televisi swasta menayangkan hal-hal yang tidak
sesuai dengan ajaran agama, terlebih lagi agama Islam, maka risikonya akan mendapatkan
kritikan dari berbagai pihak. Lebih parahnya, suatu media televisi swasta akan
mendapatkan tuntutan dan pencabutan atas progam yang menyalahi ajaran agama
tersebut. Telah dibahas sebelumnya bahwa di Indonesia terdapat oknum-oknum
dengan ajaran Islam yang keras. Konsekuensinya, media televisi swasta harus
berhati-hati dalam merencanakan pengadaan progam yang bernuansa Islam. Selain
itu, media televisi swasta juga dapat mengantisipasi dengan cara menghindar
dari progam-progam yang mungkin akan menyinggung masyarakat Indonesia, terutama
yang memeluk agama Islam (Gareth Barkin: 2014: 11).
Pokok permasalahan yang menjadi sorotan
adalah tentang media televisi swasta dan keterkaitannya dengan aspek agama
Islam. Sehingga muncul spekulasi bahwa media televisi swasta memanfaatkan
konsumen, yaitu penduduk Indonesia yang beragama Islam dalam mendapatkan sumber
pendapatan atau keuntungan. Teori Neoliberalisme kemudian menjadi sangat
berguna dalam mengalisa fenomena tersebut. Asumsi dasar dari teori
Neoliberalisme adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Cara untuk
mendapatkan keuntungan tersebut dapat berupa memaksimalisasi kebebasan swasta
(M. Qobidl ‘Ainul Arif: Catatan mata kuliah Teori Hubungan Internasional). Hal
tersebut dapat ditemukan dalam fenomena media televisi swasta Indonesia yang
mengupayakan perubahan gaya progam televisi menjadi progam yang membawa
kehidupan beragama atas landasan kebebasan demi mencapai keuntungan maksimal.
Dalam fenomena ini, umat Islam dianggap
sebagai pasar untuk memajukan industri media televisi swasta. Selera dan
perilaku umat Islam juga dianggap sebagai acuan untuk memodifikasi suatu progam
media televisi swasta (Gareth Barkin: 2014: 11). Unsur agama kemudian
dikonversi menjadi komoditas yang menguntungkan bagi pemilik industri media
televisi swasta (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 26). Akibatnya, orientasi utama
dari progam media televisi swasta mengarah pada kehidupan agama Islam di Indonesia.
Preferensi atas suatu progam media televisi swasta yang kemudian digemari
secara luas hingga mendapatkan rating yang tinggi selanjutnya akan dijual
kepada pihak pengiklanan (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 28). Kurang lebih
seperti itulah gambaran umum suatu media televisi swasta dalam meraup
keuntungan. Padahal sejatinya, pemirsa televisi swasta adalah pemilik sah
frekuensi yang berhak menentukan pilihannya dalam menikmati progam media televisi
swasta. Namun akibat pemilik industri media televisi swasta menginginkan
keuntungan yang berlimpah, pemirsa televisi kemudian menjadi korban kapitalisme
dari tindakan yang diperbuatnya (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 28).
Contoh sederhana aktivitas
kapitalisme dari progam yang bernuansa Islami dalam media televisi swasta
adalah penayangan progam yang membawa latar belakang Islam atau membawa isu khusus
tentang Islam yang selanjutnya hasil dari penayangan tersebut akan dijual
kepada pihak pengiklanan. Peran pihak pengiklanan dalam media televisi swasta
menjadi sangat penting, karena pihak pengiklanan memiliki peran untuk menyokong
industri media televisi swasta supaya dapat bertahan hidup (Muhamad Fahrudin
Yusuf: 2016: 31-32). Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pemirsa
progam media televisi swasta bernilai angka yang mampu dijual kepada pihak
pengiklanan (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 37).
Secara keseluruhan, aktivitas
kapitalisme yang dilakukan oleh industri media televisi swasta tentu menyalahi
etika agama yang dianggap suci. Tercantum dalam surah an-Nisa ayat 138-139,
surah al-Fath ayat 28, dan surah al-Hajj ayat 41, bahwa tujuan komunikasi atau
dakwah adalah memberi penjelasan, petunjuk, wejangan tentang Islam secara utuh
dan untuk tujuan amar makruf nahi munkar (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 32).
Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan situasi terkini dari media
televisi swasta di Indonesia, bahwasannya dakwah atau penyiaran komunikasi yang
dibawakan oleh seorang tokoh hanya sebagai pemanis progam semata, bukan untuk
mengedukasi secara intens terhadap khalayak umum. Hingga pada umumnya sulit
untuk membedakan antara progam dakwah yang benar-benar bertujuan untuk
memberikan edukasi terhadap masyarakat, dengan progam dakwah yang disiasati
untuk mendapatkan keuntungan. Secara garis besar, progam dakwah yang hanya
abal-abal akan terlihat lebih manipulatif dengan paduan progam hiburan.
Akibatnya, unsur hiburan terlihat lebih menonjol dibandingkan nilai-nilai agama
Islam (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 34). Inilah mengapa, esensi dari
nilai-nilai ajaran agama Islam terus tergerus sepanjang waktu.
Konten agama Islam dalam media
televisi swasta juga dapat disimbolkan dengan gaya yang unik dan menarik bagi
para pemirsa. Simbol-simbol ini berpengaruh besar dalam menginterpretasikan
agama Islam. Seperti penggunaan Bahasa Indonesia yang mudah dipahami, kemudian
pemakaian aksesoris jilbab, sarung, dan peci, serta penggunaan hiasan atau
dekorasi yang dipampang secara gamblang mampu menggambarkan karakteristik agama
Islam. Selain hal-hal tersebut, tema yang biasanya diangkat dalam progam agama
Islam adalah tema-tema yang mudah diserap oleh khalayak umum, seperti tema
kekeluargaan, rumah tangga, mendidik anak, dan lain sebagainya. Justru
tema-tema yang berhubungan tentang politik, hukum, dan agama sendiri lebih
dihindari. Padahal ajaran agama Islam mengatur segala aktivitas kehidupan
manusia (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 34). Tentunya hal ini tak lepas dari
alasan yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat, khususnya pemeluk
agama Islam. Tokoh-tokoh yang mengisi suatu progam media televisi swasta
dipilih dengan kriteria yang mampu menguntungkan pihak industri pengelola
progam. Bukan tokoh yang berasal dari kalangan terpelajar dan memiliki kompetensi
dalam agama Islam.
Anggapan yang membenarkan bahwa
memanfaatkan konsumen yang secara khususnya menargetkan komunitas Islam
berdasar pada alasan dari pihak industri media televisi swasta. Anggapan
tersebut berupa pemirsa komunitas Islam yang menginginkan tontonan yang relevan
dengan budayanya, yakni budaya Islam (Muhamad Fahrudin Yusuf: 2016: 40). Maka
dari itu, industri media televisi swasta memodifikasi serangkaian progam
acaranya yang kemudian menggunakan format bernuansa Islami, meskipun
kenyataanya yang muncul adalah sebaliknya atau tidak sama sekali bernada
Islami.
KESIMPULAN
Dari segala penjelasan yang telah
dipaparkan di atas, terdapat kesimpulan yang secara ringkas mencakup hal-hal
penting di dalamnya. Hal penting pertama yang layak digarisbawahi adalah
eksistensi media televisi swasta di Indonesia yang berkembang sesuai permintaan
zaman dan menyesuaikan kondisi masyarakat pada umumnya. Ditandai dengan
modifikasi atau gaya baru progam-progam media televisi swasta yang mengusung
kehidupan beragama. Selanjutnya, kehidupan beragama yang dimaksud ternyata
ditargetkan kepada komunitas Muslim di Indonesia. Penyebabnya adalah jumlah
pengikut agama Islam yang dominan dibandingkan agama lainnya. Hal ini
memengaruhi peningkatan rating suatu progam media televisi swasta. Asumsi dasar
dari media televisi swasta adalah bahwasannya semakin menarik suatu progam
keagamaan tersebut, maka akan semakin tinggi pula angka rating yang akan
dicapai oleh industri media televisi swasta tersebut. Dan semakin tinggi rating
yang didapat, maka akan semakin mudah untuk menjualnya ke pihak pengiklanan.
Mulanya, media televisi swasta hanya
menayangkan progam dasar yang tidak menarik perhatian komunitas Islam di
Indonesia. Seiring berjalannya waktu media televisi swasta mulai mencanangkan
progam-progam terbaru yang bernuansa Islami, seperti sinetron atau drama, serta
kuis. Akan tetapi kemudian progam-progam tersebut justru memicu kritik dari
berbagai pihak apabila konten yang ditayangkan tidak sesuai dengan ajaran agama
Islam.
Perspektif neoliberalisme melahirkan
pemahaman baru tentang fenomena media televisi swasta dalam keterkaitannya
dengan progam yang bernuansa Islami. Ialah pemahaman market based power atau komunitas Islam yang dijadikan konsumen dan
sumber keuntungan utama dari pihak industri media televisi swasta. Pemirsa
media televisi swasta, khususnya komunitas Islam menjadi pasar untuk meraup
pendapatan secara maksimal, yang kemudian pemirsa tersebut menjadi korban dari
aktivitas kapitalisme. Mengutip pada salah satu sumber ajaran agama Islam,
yaitu Al-Qur’an bahwa secara garis besar media dijadikan alat untuk memberikan
edukasi terhadap masyarakat umum dan penyataan tersebut berbanding terbalik
dengan realita di masa kini.
Pada akhirnya, progam-progam keagamaan
seperti progam dakwah dan kajian Islami ditayangkan tanpa mencakup nilai-nilai
Islami. Justru tujuan utamanya hanyalah untuk menaikkan rating yang tinggi,
dengan simbol, aksesoris, property, dan tokoh yang mengundang keuntungan.
Alasan dari tindakan yang dilakukan oleh pihak industry media televisi swasta
adalah pemirsa menginginkan tontonan yang sesuai dengan kebudayaannya, yakni
kebudayaan Islam. Akibatnya, industri media televisi swasta merencanakan progam
yang bernafaskan Islam.
TANGGAPAN
Tanggapan saya pribadi atas fenomena
media televisi swasta yang memanfaatkan komunitas Islam sebagai konsumen dan
sumber pendapatan utama adalah, bahwasannya 2 macam kategori. Kategori yang
pertama mengungkapkan bahwa media televisi swasta telah melanggar estetika dan
etika ajaran agama Islam. Alasannya tentu, agama Islam bukanlah pasar yang
layak dikomersilkan, akan tetapi ajaran agama yang memiliki nilai positif
sesuai dengan sumber hukum Al-Qur’an dan Hadits. Terlebih lagi dalam penggunaan
agama Islam dalam progam media televisi swasta yang hanya bertujuan untuk
meraup keuntungan semata. Tidak akan mengejutkan lagi, apabila di generasi
mendatang ajaran agama Islam semakin lenyap dan tergilas oleh media yang
menutupi orisinalitas dan kebudayaan Islam. Muncul juga rasa ketidakadilan
terhadap agama-agama lain di Indonesia. Akan lebih baiknya, media televisi
swasta membagi porsi penayangan suatu progam keagamaan. Dengan demikian, agama
atau kepercayaan lain merasa dihargai keberadaannya.
Kategori yang kedua mengungkapkan
bahwasannya tiada yang tidak dapat dilakukan untuk mencari keuntungan di masa
kini. Sebab semakin kompleksnya problematika kehidupan, dan sulitnya untuk
mendapatkan sepeser nilai dari kerja keras seseorang. Anggapan tersebut juga
didukung oleh pendapat yang menyatakan bahwa media televisi swasta bukan hanya
memfokuskan untuk memperoleh rating dan keuntungan, akan tetapi juga untuk
menyebarluaskan esensi dari progam keagaamaan tersebut. Seperti situasi saat ini
yang mengharuskan pembatasan kegiatan tatap muka langsung dan digantikan dengan
penayangan melalui media yang tersedia. Kurang lebihnya, saya mohon maaf.
Wallahu A’lam bisshowab.
DAFTAR PUSTAKA
Arif,
M. Qobidl ‘Ainul. Catatan perkuliahan mata kuliah Teori Hubungan Internasional
Barkin,
Gareth. 2014. Commercial Islam in
Indonesia: How Television Producers Mediate Religiosity among National
Audiences. International Journal of Asian Studies, 11, 1 (2014), pp. 1–24 ©
Cambridge University Press
Yusuf,
Muhamad Fahrudin. 2016. Komodifikasi:
Cermin Retak Agama di Televisi: Perspektif Ekonomi Politik Media. Interdisciplinary
Journal of Communication Volume 1, No.1, Juni 2016: h. 25-42
Fahllanda,
Balqis. 2020. Daftar Sinetron Ramadan yang Pernah Tayang di Televisi dalam situs web https://tirto.id/daftar-sinetron-ramadan-yang-pernah-tayang-di-televisi-fsc8 yang diakses pada tanggal 26 Oktober 2020
Teguh, Irfan. 2017. Mengenal Sunda Wiwitan dan Agama Sunda yang Lain dalam situs web https://tirto.id/mengenal-sunda-wiwitan-dan-agama-sunda-yang-lain-cvhD yang diakses pada tanggal 26 Oktober 2020

Komentar
Posting Komentar