Langsung ke konten utama

Seandainya Setiap Orang Bermurah Hati pada Dunia: Refleksi Kehilangan dari Novel dan Film "If Cats Disappeared from the World"

Kolom ini kembali menyapa setelah sekian lama. Kali ini, aku tidak sekadar mengulas novel atau film saja, tetapi juga menyampaikan pandanganku dan relevansinya dengan dunia ini, terutama pengalaman pribadiku.

Pertama-tama, aku ingin bercerita tentang bagaimana aku bisa mendapatkan novel ini. Aku membelinya saat ada pameran buku di gudang buku Mizan Yogyakarta. Aku lupa tepatnya membeli novel ini di harga berapa karena saat itu ada potongan harga, tetapi harga yang tertera untuk pulau Jawa adalah Rp 78 ribu. Sejujurnya, saat berada di pameran, ada beberapa booklist yang ingin aku adopsi, tetapi entah kenapa aku tertarik dengan novel sampul kucing di dalam keranjang sepeda ini. Kalau tidak salah, ada dua versi warna cover, merah muda (pink) dan hijau toska, dan aku memilih versi merah muda berkat saran dari pasanganku. Selain karena covernya yang lucu dan judul yang atraktif, aku juga menjadi semakin yakin untuk mengadopsi buku ini setelah membaca sinopsis di bagian belakang novel. Setelah pertimbangan yang cukup pelik, aku sepakat membelinya.

Disclaimer, saat membeli novel ini, aku belum tahu bahwa novel ini telah diadaptasi menjadi film. Buku ini ditulis oleh Genki Kawamura dan diterbitkan oleh Penerbit Baca terjemahan Ribeka Ota. Terbitan pertama versi bahasa Jepangnya rilis tahun 2012, sedangkan versi terjemahan bahasa Indonesianya rilis tahun 2020, dan buku yang kubeli adalah ke-9 tahun 2025. Nah, karena novel ini telah diadaptasi menjadi film, aku pun tertarik untuk segera menontonnya, supaya ingatan dari novel masih segar. Dalam tulisan ini, aku berusaha menyampaikan sudut pandangku melalui perbandingan antara apa yang tertulis di novel dan apa yang ditampilkan di film. Bagaimana ulasannya? Simak terus tulisan ini ya~

Novel dan Film Ini Bercerita tentang Apa?

Baik novel maupun filmnya sama-sama bercerita tentang kehidupan menjelang ajal. Seorang pemuda berusia 30-an yang bekerja sebagai tukang pos (tidak disebutkan namanya) didiagnosis mengidap penyakit mematikan yang membuatnya tidak akan lama hidup di dunia. Cerita berfokus pada masa setelah kenyataan pahit itu datang, mulai dari tahap penyangkalan, negosiasi dengan sosok yang disebut “Jin”, hingga proses penerimaan atau berdamai dengan keadaan.

Pernahkah kamu membayangkan jika usiamu tidak lagi panjang? Ya, novel dan film ini menawarkan sudut pandang yang cukup realistis dari setiap fasenya. Nah, menariknya terletak pada adegan saat tokoh utama menegosiasi nyawanya kepada sosok Jin. Alih-alih digambarkan menyeramkan, sosok Jin di sini berpenampilan sama persis dengan si tokoh utama. Syarat tawar-menawarnya sederhana, tokoh utama bisa hidup lebih lama asalkan ada satu hal di dunia ini yang dihilangkan berdasarkan pilihan si Jin. Alasannya cukup logis, bahwa manusia terlalu serakah menciptakan banyak hal di dunia, yang ujung-ujungnya tidak banyak digunakan.

Tokoh utama setuju, demi menikmati satu hari tambahan. Beberapa hal yang sempat dihilangkan antara lain telepon, jam, dan film. Puncaknya terjadi ketika Jin meminta kucing ikut dilenyapkan dari dunia. Kucing yang diceritakan di sini bukanlah figur yang baru muncul di akhir cerita. Kucing bernama Kubis ini telah lama hadir, tepatnya sejak kucing pertama milik tokoh utama, bernama Selada, meninggal dunia. Nama Kubis sendiri diberikan karena dalam film, kucing ini ditemukan di dalam kotak sayur bergambar kubis. Pergolakan batin tokoh utama semakin menjadi-jadi di bagian ini, sampai pada akhirnya ia memilih menerima kenyataan yang harus dihadapi, yakni kematian. Dengan begitu, tokoh utama tidak perlu lagi menghilangkan hal-hal berharga di dunia, termasuk kucing kesayangannya.

Selain karena keberadaannya yang telah lama ada, hal yang membuat kucing ini begitu spesial adalah kenangan bersama keluarga, khususnya ayah dan ibu tokoh utama. Sebelum ibu dari tokoh utama meninggal karena sakit, kucing inilah yang selalu membersamainya dan dirawatnya dengan penuh perhatian. Maka, ketika Jin meminta kucing sebagai tebusan nyawa selanjutnya, memori masa lalu bersama keluarga kembali berputar. Sejatinya, ingatan masa lalu itu selalu hadir setiap kali ada hal yang akan dihilangkan, mulai dari memori tentang telepon, jam, hingga film. Namun, karena kenangan bersama kucing terasa begitu mendalam, bagian ini menjadi titik balik emosional yang paling krusial.

Secara garis besar, novel dan film fiksi ini mengangkat tema tentang kehidupan, kematian, dan hubungan keluarga. Versi novelnya terdiri dari 8 bagian yang berurutan dari hari Senin sampai dengan Minggu, sedangkan versi filmnya berdurasi sekitar 1,5 hingga 2 jam. Oh ya, untuk versi filmnya sendiri rilis pada tahun 2016, kurang lebih 4 tahun setelah versi novel diterbitkan.

Poster film
source: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTgWj-0CTnsVs2OJ_ho6imYldOHhr1aTt11trbo4KHNsQ&s=10

Apa kelebihan dan kekurangan Novel dan Film ini?

Kekuatan pertama dari novel ini terletak pada penggunaan sudut pandang orang pertama, “aku”. Teknik ini membuat para pembaca merasa begitu dekat, ikut memproses konflik batin secara realistis, dan larut dalam setiap jalinan cerita. Sudut pandang ini mengajak pembaca berefleksi jika hal yang sama terjadi pada diri sendiri, sebuah perjalanan refleksi yang sangat menenangkan sekaligus menyentuh.

Dari segi penokohan, selain tokoh utama “aku”, ada beberapa tokoh pendukung lainnya, seperti ayah, ibu, mantan pacar perempuan, sahabat laki-laki, jin, kucing, serta kenalan yang ditemuinya saat berada di Argentina bersama sang mantan. Efisiensi jumlah tokoh tanpa mengurangi kedalaman cerita dari setiap kenangan menjadi poin kelebihan selanjutnya karya ini.

Di dalam novel, setiap tokoh juga memiliki kenangannya masing-masing terhadap hal yang akan dihilangkan. Misalnya telepon, hal pertama yang dihilangkan. Tokoh “aku” mengenang masa-masa saat ia mendekati mantan pacarnya. Kala itu, mantan pacarnya belum memiliki telepon, sehingga bila ingin menelpon seharian, mantan pacarnya harus mendatangi warung telepon. Momen menanti telepon itulah yang selalu ditunggu-tunggu oleh tokoh “aku”. Sementara di dalam film, adegan kunci terjadi saat mantan pacarnya salah menelpon ke tokoh “aku”, sebuah ketidaksengajaan yang menjadi awal mula pertemuan dan hubungan mereka. Baik novel maupun film berhasil menggarisbawahi bahwa telepon sejatinya memegang peranan yang sangat bermakna dalam perjalanan kisah mereka berdua.

Ketika mengulas masa lalu, maka secara otomatis alurnya bergeser menjadi mundur sejenak. Artinya, baik novel maupun film ini menggunakan alur maju-mundur. Kendati demikian, aku tidak menemukan kebingungan dalam memahami jalinan cerita. Penerjemah versi novel, Kak Ribeka Ota, berhasil menyajikan terjemahan bahasa Indonesia menggunakan bahasa sehari-hari yang luwes. Detail kejadian digambarkan dengan cukup baik, sehingga pembaca bisa mengalir begitu saja mengikuti proses penerimaan dari tokoh “aku".

Latar lingkungan Jepang modern digambarkan dengan hangat dan natural, sehingga terasa lebih dekat dengan pembaca. Pengambilan adegan dalam filmnya pun terasa pas dan tidak berlebihan, meskipun tentu ada sentuhan efek visual di beberapa bagian.

Meski demikian, novel dan film ini tidak luput dari kekurangan. Hal pertama yang ingin aku soroti adalah tempo ceritanya yang terasa agak cepat dan terkesan terburu-buru. Dalam sudut pandangku yang lain, tempo cepat ini bisa dimaklumi karena relevan dengan tema kematian yang tidak bisa ditunda. Tetapi di sisi lain, tempo cepat ini membuatku kekurangan ruang untuk sejenak mengendapkan perasaan dan berefleksi. Disclaimer, ketika membaca novel ini, aku sempat menangis. Begitu pula saat menonton filmnya, yang kuharap tidak membuatku menangis lagi karena telah membaca novelnya, justru air mataku tetap menetes. Tentu aku mengambil jeda beberapa saat sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Selain dari segi tempo, kekurangan lainnya adalah ketidakselarasan antara novel dan film. Ada beberapa adegan yang ditampilkan secara sama persis, tetapi ada juga detail di dalam novel yang tidak ditayangkan dalam film. Misalnya, adegan saat Kubis si kucing bisa berbicara selayaknya manusia. Bagian ini ada di dalam novel, tetapi nihil di dalam film, dan beberapa bagian lainnya. Walaupun begitu, jalan cerita dalam film masih sangat mudah dipahami. Aku tidak begitu yakin jika seseorang langsung paham saat menonton filmnya tanpa membaca novelnya, meski demikian ini layak dicoba. Beritahu aku jika anda sudah melakukannya ya~

Apa hal menarik dari Novel dan Film ini?

Aku mencoba mengingat tentang momen apa yang membuatku menangis ketika membaca dan menonton film, jawabannya adalah momen saat bersama kucing hehehe. Kucing yang digambarkan, baik dalam film maupun novel terasa sangat hangat dan dekat, selayaknya kucing yang biasa kita temui di mana-mana. Terutama di momen saat kucing bisa berbicara tentang apa yang dia rasakan selama ini, tentang kenangan yang dia ingat, dan tentang kebiasaan serta pengorbanan demi kehidupan tuannya, tokoh “aku”. Aku menangkap bahwa, hal-hal yang selama ini sering dianggap remeh dan kecil sejatinya bisa sangat berarti bagi kehidupan kita. Ini masih berbicara tentang benda dan hewan peliharaan, belum lagi berbicara tentang seseorang yang sangat dekat dalam hidup kita. Itulah mengapa novel dan film ini juga mengeksplorasi sisi kekeluargaan dari tokoh “aku”, bagaimana tokoh “aku” mengenang masa-masa sebelum ibunya tiada dan sebelum sebelum hubungannya dengan sang ayah menjadi renggang. Karya ini menawarkan perjalanan refleksi yang sangat hangat, refleksi tentang menghargai setiap hal-hal kecil di sekeliling kita dan memuarakannya pada rasa syukur atas apa yang telah ada membersamai kita sepanjang hidup. Hobi, hewan peliharaan, keluarga, dan segalanya yang ada di dekat kita.

Kucing di rumah teman Ibu

Kedua, hal menarik dari karya ini adalah pembahasan tentang 5 fase respon duka dalam menghadapi kehilangan atau kabar buruk. 5 fase itu di antaranya adalah penyangkalan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance), untuk penjelasan lebih lanjut mengenai setiap fasenya silakan baca sendiri ya dalam bukunya :). Teori ini diperkenalkan oleh psikiater Elisabeth Kubler-Ross. Sedikit memberi konteks tentang mengapa Kubler-Ross menciptakan teori ini. Dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying, dia menceritakan bahwa isu kematian dulunya dianggap sangat tabu di rumah sakit Amerika Serikat. Pasien dengan penyakit terminal (tidak bisa disembuhkan) cenderung diabaikan karena kematian dianggap sebagai “kegagalan medis”, sehingga perlakuan terhadap mereka cenderung dingin dan terisolasi. Kubler-Ross kemudian melakukan wawancara langsung terhadap lebih dari 500 pasien terminal untuk mengubah persepsi tersebut. Dari riset itulah teori ini lahir. Mulanya, teori ini ditujukan untuk pasien terminal atau orang-orang yang menghadapi ajalnya sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat dan dunia psikologi mulai menyadari bahwa 5 fase ini sangat relevan untuk menggambarkan perasaan duka akibat jenis kehilangan apa pun.

Relevansinya dengan karya ini sangat jelas.  Tokoh “aku” memperagakan kelima fase tersebut, dan setelah menikmati karya ini, kita akan disadarkan bahwa melewati fase-fase emosi itu adalah hal yang wajar. Bagiku, yang sangat awam dengan dunia psikologi, teori ini sangat membantu untuk memetakan fase-fase alami diri sendiri maupun orang lain saat berduka. Selain itu, pemahaman ini memberi panduan bagi kita untuk bersikap dengan tepat saat menemani orang yang sedang sakit berat. Kendati teori ini bukanlah patokan kaku yang tanpa celah, keberadaannya tetap sangat berharga untuk diketahui oleh siapa saja.

Cuplikan dalam novel

Terakhir, soal perbedaan adegan antara novel dan film yang sempat aku singgung sebelumnya. Meskipun ada perbedaan detail, visualisasi filmnya justru memberi sudut pandang yang lebih jernih.

Aku menangkap bahwa sosok Jin yang wajahnya serupa dengan tokoh “aku” itu merupakan perwujudan dari rasa takut akan kematian itu sendiri. Di akhir cerita, sosok Jin ini pergi setelah tokoh “aku” bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima kenyataan bahwa tidak lama lagi dia akan meninggal. Jadi proses tawar-menawar untuk menghilangkan satu hal di dunia demi nyawa sehari adalah pertarungan pikiran yang dibuat sendiri oleh tokoh “aku”. Menurutku, penggambaran ini sangat on point, menunjukkan bahwa pikiran-pikiran jahat atau aneh sebenarnya sering kali bersumber dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain. Aku sangat suka cara penggambaran seperti ini.

Rekomendasi untuk siapa?

Dengan tema kehidupan dan kekeluargaan yang sangat dalam, aku rekomendasikan buku dan film ini kepada siapa saja yang sedang merasa kehilangan, merasa sedih yang tak bertepi, atau sedang belajar ikhlas atas kehilangan hal-hal yang sangat dicintai. Selain itu, karya ini juga bisa dinikmati oleh semua umur, semua kalangan, terutama penyuka kucing, dan semua-semua lainnya. Ibarat ungkapan, karya ini akan “menyakitimu” dengan cara yang sangat halus, tulus, dan sangat bermakna, lalu menyisakan pesan moral untuk kita bawa dalam menjalani kehidupan.

Sekian dari tulisan kali ini. Nantikan tulisan berikutnya, dan sampai jumpa ~

Berikut adalah kumpulan foto-foto kucing yang aku temui belakangan ini :)

Kucing di perpustakaan pusat UGM

Kucing di fakultas peternakan UGM

Kucing di GSP UGM

Kucing di Wisdom Park

Kucing di toko ikan
Referensi:
https://www.ekrfoundation.org/5-stages-of-grief/on-death-and-dying/

Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...