Berbicara mengenai kebijakan perang Irak di Kuwait, tentu tidak dapat lepas tangan dari pembuat kebijakan tersebut. Sebab kebijakan luar negeri akan selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang karenanya suatu kebijakan luar negeri dapat diputuskan dan terealisasikan. Pada kesempatan kali ini, penulis berusaha untuk mengambil level of analysis di tingkat individu. Sehingga analisis kebijakan perang Irak di Kuwait ini akan memfokuskan terhadap individu yang bersinggungan langsung dengan kebijakan tersebut, yang tidak lain adalah tokoh kontroversial Saddam Hussein. Yaitu, presiden Irak yang juga memerintahkan pasukannya untuk melakukan invasi terhadap Kuwait. Selain itu, penulis juga akan mengaplikasikan metode kualitatif yang isi dari suatu bahasan tersebut akan bernilai subjektif. Beberapa data yang berasal dari sumber bacaan internet, maupun tayangan video Youtube akan dikumpulkan dan diterjemahkan dengan Bahasa penulis, sehingga data yang dimanfaatkan dalam analisis ini adalah data sekunder.
Apabila dilihat dari sejarah tentang bagaimana kebijakan tersebut dapat terealisasikan, tentu tidak jauh dari sejarah perang teluk antara Irak dan Iran, dan sejarah tersebut telah lama ada sejak dahulu kala di zaman kerajaan Mesopotamia. Sejarah mencatat bahwa apa yang menjadi masalah antara Irak dan Iran hingga berlarut-larut adalah perbatasan wilayah. Kemudian terjadilah perang teluk pertama antar Irak dan Iran pada tahun 1980-1988, yang keduanya disokong oleh berbagai pihak. Kuwait pada mulanya menjadi mediator dan bersikap netral antara kedua negara. Namun hal itu berubah saat Kuwait membantu Irak dalam membiayai kebutuhan dalam berperang. Perubahan sikap tersebut didasari oleh Kuwait yang merasa terancam dengan aksi Iran dalam merebut kekuasaannya. Setelah perang kedua negara tersebut berakhir dengan hasil yang nihil, yaitu kedua negara sama-sama mengalami kegagalan, Kuwait meminta Irak untuk melunasi hutangnya atas pembiayaan kebutuhan berperang. Namun Irak menolak dan membela bahwa hutang tersebut terbayarkan dengan kondisi aman Kuwait atas Iran. Meskipun begitu, Kuwait tetap menagih hutangnya kepada Irak dan hal tersebut membuat Irak merasa tidak nyaman.
Selain hal sejarah, perang teluk
kedua antara Irak dan Kuwait juga dipicu oleh konflik perbatasan wilayah.
Setelah terputuskan batas wilayah Irak dan Kuwait, muncul tuduhan bahwa Kuwait
telah mencuri minyak Irak melalui selang bawah tanah yang tembus ke negara
Irak. Namun hal tersebut dibantah oleh pihak Kuwait dengan respon bahwa tuduhan
tersebut adalah alibi supaya Irak melancarkan serangannya. Tak hanya itu, Irak
memiliki dendam kepada Kuwait akibat penurunan harga minyak yang menyebabkan
keterpurukan kondisi ekonomi Irak. Ketika Irak mengalami kemerosotan ekonomi
akibat harga minyak yang turun, Irak meminta kepada OPEC untuk menaikkan harga
minyak. Akan tetapi Kuwait dan Arab Saudi menolak. Hal tersebut meningkatkan
tensi diantara Kuwait dan Irak.
Irak memulai aksi invasinya terhadap
Kuwait pada 2 Agustus 1990, dan aksi tersebut memberikan dampak yang merugikan
bagi Kuwait dan Irak sendiri. Namun yang perlu digarisbawahi dari aksi
penyerangan Irak atas Kuwait adalah ketegasan Saddam Hussein dalam memutuskan
suatu kebijakan. Ada beberapa pandangan dari sumber bacaan yang telah ditelaah
sebelumnya, bahwa Saddam Hussein merealisasikan kebijakan tersebut tanpa
ragu-ragu berdasar pada sikap nasionalisnya dan ideologinya yang bernama
Pan-Arab, yaitu ideology yang menyatakan bahwa bangsa Arab harus terlepas dari campur
tangan kolonialisme Eropa dan Amerika. Hal tersebut juga merujuk pada kasus
Palestina yang saat itu sedang dijajah oleh Israel dengan dukungan Amerika
Serikat. Saddam Hussein juga mengecam pemerintahan Al-Sabah Kuwait untuk lepas
tangan dari Amerika Serikat, dan juga pembebasan rakyat Kuwait selama dipimpin
oleh Emir Al-Sabah. Meskipun nyatanya aksi kontroversial Saddam Hussein
mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Dari ambisi kebebasan dan ideology
Pan-Arab Saddam Hussein yang menyebabkan aksi invasi terhadap Kuwait, maka
terlintas teori Realisme, yaitu negara adalah cerminan dari kepentingan
bersama. Terlihat dari sisi Saddam Hussein yang tidak mau berbagi kepentingan
dan selalu timbul kecurigaan terhadap negara lain. Saddam Hussein juga
menghalalkan segala cara untuk dapat bertahan hidup demi kepentingan negaranya
sendiri, yaitu Irak.
|
Decision Keputusan |
Behavior Perilaku |
Outcomes Hasil (Regional dan Internasional) |
|
Menyerang
Kuwait dan mengambil alih kekuasaan Kuwait. |
Mengirim
personil militer, melakukan invasi, membentuk pemerintahan boneka, membakar
sumur minyak Kuwait. |
Regional:
Mengalami keterpurukan dari segala aspek di Irak setelah mendapat saknsi dari
PBB, mendapat kecaman dari berbagai negara Arab kecuali Palestina, Yordania,
dan Yaman. Internasional: Amerika beserta koalisi melakukan
intervensi terhadap Irak, PBB melayangkan sanksi kepada Irak, Pembekuan aset
milik Irak, dan Pemberhentian pengiriman senjata kepada Irak oleh Uni Soviet. |
Daftar Pustaka
Anon.
2020. Mengingat Kembali Invasi Irak ke
Kuwait 30 Tahun Lalu. Dalam situs web (https://amp.dw.com/id/mengingat-kembali-invasi-irak-ke-kuwait-30-tahun-lalu/a-54381029)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Asmardika,
Rahman. 2017. Historipedia: Invasi Irak
ke Kuwait Mengawali Pecahnya Perang Teluk. Dalam situs web (https://news.okezone.com/amp/2017/08/02/18/1748144/historipedia-invasi-irak-ke-kuwait-mengawali-pecahnya-perang-teluk)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
BBC.
2005. 1990: Iraq invades Kuwait.
Dalam situs web (https://new.bbc.co.uk/onthisday/hi/dates/stories/august/2/newsid_2526000/2526937.stm)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Gordon,
Michael R. 1990. Iraq Army Invades
Capital of Kuwait in Fierce Fighting. Dalam situs web (https://www.nytimes.com/1990/08/02/world/iraq-army-invades-capital-of-kuwait-in-fierce-fighting.html)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Hasan,
Akhmad Muawal. 2019. Sejarah Perang Teluk
I: Invasi Irak ke Kuwait dan Kegilaan Saddam. Dalam situs web (https://tirto.id/sejarah-perang-teluk-i-invasi-irak-ke-kuwait-dan-kegilaan-saddam-eflq)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Salgado,
Sebastiao. 2016. When the Oil Fields
Burned. Dalam situs web (https://www.nytimes.com/interactive/2016/04/08/sunday-review/exposures-kuwait-salgado.html)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Sanjaya,
Victor. 2019. Invasi Irak ke Kuwait 2
Agustus 1990: Aksi Kontroversial Saddam yang Mengguncang Dunia. Dalam situs
web (https://sejarahmiliter.com/invasi-irak-ke-kuwait-2-agustus-1990-aksi-kontroversial-saddam-yang-mengguncang-dunia/sejarahmiliter/30/11/2019/12/09/)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Setiawan,
Moch. Arief. 2014. Irak: Stabilitas Atas
Nama Demokrasi Liberal. Dalam situs web (http://moch-arief-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-134471-MBP%20Timur%20Tengah-Irak:%20Stabilitas%20Atas%20Nama%20Demokrasi%20Liberal%20.html)
yang diakses pada tanggal 3 Oktober 2020
WE
Online. 2020. Astaga! Ternyata ini Alasan
Terbesar di Balik Serangan AS ke Irak. Dalam situs web (https://m.wartaekonomi.co.id/berita296781/astaga-ternyata-ini-alasan-terbesar-di-balik-serangan-as-ke-irak)
yang diakses pada tanggal 2 Oktober 2020
Situs Youtube
Invasion
of Kuwait – Explianed dalam situs (https://youtu.be/dphDS6OS1lc)

Komentar
Posting Komentar