Bukan hal yang baru apabila
berbicara tentang melemahnya kekuatan Arab Saudi dalam sistem regional atau
kawasan dan internasional. Sebab, sejak putra dari Raja Salman atau yang
akrabnya disapa dengan Pangeran Muhammad Bin Salman menduduki takhta kerajaan,
performa dari kebijakan yang diputuskan oleh kerajaan Arab Saudi menjadi kacau
dan tidak stabil. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan Pangeran atau Putra
Mahkota Muhammad Bin Salman dalam menanggapi situasi regional maupun
internasional. Bahkan, hal-hal yang kian memburuk bak mimpi terus menerus
menghampiri dan menghantui Arab Saudi. Akibatnya, berbagai kecaman dan kritik
dari negara-negara kawasan dan global tak henti-henti dilayangkan kepada
kerajaan Arab Saudi. Aksi atau tindakan yang dicanangkan oleh Putra Mahkota pun
semakin tidak wajar, dan perlu dipertanyakan alasannya. Berikut ini akan
dijelaskan mengenai analisis melemahnya kekuatan Saudi menggunakan Options, Decision, Behavior, dan Outcomes.
1) level analisa yang tercantum
dalam artikel Al-Jazeera yang berjudul The
end of the Saudi Era yaitu menggunakan level analisa negara. Sebab, hal
yang tersorot disini adalah bagaimana Arab Saudi mengalami era kemunduran atau
kekuatannya yang semakin melemah. Beberapa pernyataan yang mendukung level
analisa negara di artikel ini adalah, berbagai tindakan yang dilakukan oleh
Arab Saudi terhadap negara kawasan seperti, Qatar, Mesir, Iran, Irak, Kuwait,
Suriah, dan negara-negara lainnya. Tindakan yang dilakukan dapat berupa
intervensi, penyerangan, atau bahkan membujuk kepala negara untuk melakukan
pengunduran diri di layar tv Arab Saudi, dan hal-hal tersebut telah melewati
batas wajar.
2) sementara teori atau perspektif
yang terkandung dalam kasus tersebut yaitu teori Realisme, yang mana teori
tersebut menilai bahwa manusia itu egois dan selalu meuncul kecurigaan terhadap
subjek atau aktor internasional yang lain. Hal tersebut tercermin dalam
perilaku Putra Mahkota Muhammad Bin Salman yang sewenang-wenang dalam mengambil
keputusan. Beliau bertindak sangat jauh di luar ekspetasi publik, juga
menghalalkan segala cara demi mencapai kepentingannya sendiri serta upaya untuk
dapat bertahan hidup dalam sistem internasional.
3) pembahasan selanjutnya yaitu
mengenai analisa Options (Pilihan
Kebijakan), Decision (Kebijakan), Behavior (Perilaku), dan Outcomes (Hasil) dari kasus tersebut.
Dimulai dari berbagai pilihan kebijakan yang terlampir dalam meja
pengambil kebijakan, atau Putra Mahkota Muhammad Bin Salman. Diantara berbagai
pilihan kebijakan tersebut yakni, mencampuri urusan dalam negeri Libya dan
Tunisia dan mendukung diktator dan penjahat perang, seperti Abdel Fattah
el-Sisi dari Mesir dan Bashar al-Assad dari Suriah. Tidak hanya itu, terdapat
rencana normalisasi hubungan antara Arab Saudi dengan Israel, yang pada
dasarnya hal tersebut memicu sejumlah kritik terutama Arab Saudi membela
kebebasan Palestina. Putra Mahkota juga telah berusaha mendorong UEA dan
Bahrain untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai awal dari
normalisasi Saudi yang akan segera terjadi, tetapi tanpa persetujuan ayahnya.
Analisa selanjutnya yaitu mengenai kebijakan apa saja yang diputuskan
oleh pengambil kebijakan yang tak lain adalah putra mahkota Muhammad Bin
Salman. Beberapa kebijakan yang telah diputuskan oleh Muhammad Bin Salman
diantaranya, membentuk aliansi yang sangat intim dengan Amerika. Beliau juga
memutuskan untuk memulai perang di Yaman dengan alibi menghadapi pemberontak
Houthi, yang dianggap sekutu Teheran, serta membuat krisis dengan tetangganya
Qatar dengan alasan palsu melawan "terorisme" dan campur tangan asing
untuk memaksakan rezim baru yang patuh. Putra Mahkota Muhammad Bin Salman
memikat perdana menteri Lebanon, Saad Hariri ke Riyadh, memaksanya untuk
mengutuk mitra koalisinya, Hizbullah yang didukung Iran, dan mengajukan
pengunduran dirinya di televisi Saudi langsung. Putra mahkota Saudi telah
memperkuat aliansi rahasia dengan Israel untuk membuka jalan menuju normalisasi
penuh dengan penjajah Arab. Selain itu, beliau juga mengambil alih semua pilar
kekuasaan dan bisnis di kerajaan,
Mengenai perilaku Arab Saudi sesaat setelah diputuskannya berbagai kebijakan
yang mengundang sejumlah kecaman regional maupun internasional, diantaranya
mengirim pasukan keamanan yang bertujuan untuk memporak-porandakan negara
tetangga di kawasan Timur Tengah. Selain itu, terjadi kebrutalan dalam penahanan
mendadak, penghinaan dan bahkan penyiksaan terhadap pangeran kerajaan dan
beberapa pejabat pemerintahan di Arab Saudi.
Analisa terakhir yaitu mengenai hasil dari perilaku yang telah
diperbuat atas kebijakan yang berlaku. Tentunya secara menyeluruh hasil yang
didapat berupa kekacauan dan kemunduran Arab Saudi. Berbagai konflik kawasan
bahkan semakin menjadi-jadi akibat campur tangan dari Arab Saudi. Kecaman dan
kritik pedas berangsur-angsur dating dari penjuru dunia akibat tindakan atau
aksi yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, terutama penindasan yang terus
berlanjut hingga kematian jurnalis Washington Post serta kritikus handal Jamal
Ahmad Khashoggi. Pada akhirnya, berbagai kebijakan telah diputuskan membawa
Arab Saudi menjadi negara yang tidak stabil di kawasan regional dan
internasional.
REFERENSI
Bishara,
Marwan. 2020. The end of the Saudi era dalam
situs web https://www.aljazeera.com/opinions/2020/9/22/the-end-of-the-saudi-era/
yang diakses pada tanggal 7 Oktober 2020

Komentar
Posting Komentar