Langsung ke konten utama

KEBIJAKAN LUAR NEGERI TIMOR LESTE


PENGANTAR

      Keberadaan suatu negara di dunia dengan pengakuan berskala internasional baik secara de jure maupun de facto tidak akan lengkap tanpa adanya kebijakan luar negeri. Hal tersebut didukung oleh salah satu alasan yang menyatakan bahwa dengan adanya kebijakan luar negeri, suatu negara dapat membangun hubungan baik yang menciptakan keuntungan dari berbagai macam aspek, seperti keamanan, politik, sosial-budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, baik negara generasi pertama maupun negara abad 21 berlomba-lomba untuk mengintensifkan hubungan internasionalnya. Terlebih lagi bagi negara baru yang masih membutuhkan tuntunan dari negara lain untuk menjalankan aktivitas negaranya. Negara baru yang dimaksud adalah negara yang masih dikatakan awam dan rawan terjadi masalah serius karena lunaknya sistem pemerintahan, sebab negara tersebut belum mampu mengemban amanat dari rakyat dan memposisikan statusnya sebagai negara.

      Kondisi tersebut terbukti muncul pada salah satu negara baru di kawasan Asia Tenggara, ialah Republik Demokratik Timor Leste atau yang biasa disebut Timor Leste yang meraih kemerdekaannya pada tanggal 20 Mei 2002 dibawah naungan institusi internasional PBB.[1] Meskipun telah mendeklarasikan kemerdekaan, Timor Leste masih belum mampu menstabilkan kondisi di negaranya, tercatat berbagai masalah internal yang terjadi hingga tahun 2012, yang kemudian diselesaikan melalui misi terpadu PBB di Timor Leste UNMIT (United Nations Mission in Timor Leste).[2] Terlepas dari konflik internal yang terjadi sepanjang tahun 2002 hingga 2012, Timor Leste kini telah menyadari posisi strategisnya dalam hubungan internasional. Meskipun acapkali terhambat oleh masalah umum, akan tetapi Timor Leste telah mencanangkan berbagai kebijakan luar negeri untuk menguatkan posisinya sebagai suatu negara. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sejarah singkat yang membentuk identitas nasional Timor Leste, bentuk-bentuk kebijakan luar negeri Timor Leste, dan berbagai masalah yang akan dihadapi oleh Timor Leste di masa mendatang.

SEJARAH DAN IDENTITAS NASIONAL

      Timor Leste adalah salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki luas wilayah sebesar 14.874 km² dengan jumlah penduduk berdasarkan sensus akhir tahun 2011 yang diperkirakan mencapai 1,115,000 jiwa dengan mayoritas beragama Katolik (90%), Protestan (5%), Islam (3%), Lain-lain (2%).[3] Hal ini menjadikan Timor Leste menjadi negara kedua setelah Filiphina yang memiliki mayoritas agama Katolik. Sistem pemerintahan Timor Leste adalah Semi-Presidensial, yaitu Presiden sebagai Kepala Negara yaitu Francisco Guterres yang menjabat sejak 20 Mei 2017 dan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan yaitu Taur Matan Ruak yang menjabat sejak 22 Juni 2018.[4] Hal-hal umum lainnya seperti asal turunan warga Timor Leste berasal dari keturunan Austronesia secara dominan, namun tidak menutup kemungkinan terdapat berbagai turunan lainnya seperti Papua maupun Tionghoa. Sementara penggunaan Bahasa di Timor Leste yaitu menggunakan Bahasa Tetum dan Bahasa Portugis¸[5] hal ini dikarenakan Timor Leste mengadopsi berbagai aspek dari bangsa Portugis.

      Telah disinggung sebelumnya mengenai kemerdekaan Timor Leste pada tanggal 20 Mei 2002 yang diawasi secara langsung oleh PBB. Namun jauh sebelumnya pada tahun 1975, Timor Leste telah memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajah kolonial Portugis. Sebelum Indonesia menjajaki wilayah Timor Leste, Portugis terlebih dahulu menguasai daerah tersebut sejak tahun 1513 hingga 1975. Pada awalnya, Timor Leste terbagi menjadi 2 wilayah (Timor Portugis dan Timor Barat) yang dipisahkan oleh kota Dili atau Manatuto. Di kedua wilayah tersebut, terdapat partai-partai yang saling berlawanan dan berebut mendapatkan pengaruh untuk persiapan kemerdekaan Timor Leste. Kemerdekaan Timor Leste semakin nyata semenjak adanya revolusi Anyelir di Portugal 1974 yang berisikan tentang Portugis tidak lagi menjajaki tanah Timor Portugis, serta kemenangan partai politik dominan sayap kiri FRETILIN (Front Revolusioner untuk Timor Leste Merdeka) atau nama baru dari ASDT (Asosiasi Sosial Demokrat Tinor Leste) atas serangan kudetanya terhadap partai politik sayap kanan UDT (Uni Demokratik Timor Leste)[6] dan partai politk minoritas lainnya. Sementara FRETILIN mendeklarasikan kemerdekaannya pada November 1975 dengan presiden pertama Francisco Xavier do Amaral, partai politik yang mengalami kekalahan melarikan diri menuju wilayah Indonesia dan menandatangani deklarasi Baliho dengan maksud integrasi wilayah. Hal ini yang menyebabkan terjadinya konflik berkepanjangan antara kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan, serta pendudukan Indonesia atas Timor Leste yang disetujui oleh Amerika dan Australia untuk mencegah paham komunis.[7]

      Selama 24 tahun lamanya, Timor Leste melakukan gerakan pembebasan oleh operasi militer ofensif FALINTIL atau angkatan bersenjata dari partai politik FRETILIN dengan gerilyawan kemerdekaan Indonesia. Berbagai tindakan demonstrasi, pemogokan kerja, dan berbagai aksi lainnya yang menyuarakan kemerdekaan di Timor Leste juga dilakukan seiring berjalannya waktu hingga tahun 1998. Salah satu tagedi paling kejam yaitu penembakan terhadap milisi pro-kemerdekaan Timor Leste pada tanggal 12 November 1991 di masa pendudukan Indonesia yang bertempat pada makam Santa Cruz, sehingga tragedy tersebut dijuluki pembantaian Santa Cruz.[8] Fenomena tersebut telah menelan banyak nyawa dan biaya yang cukup tinggi, sehingga setelah rezim Soeharto tergantikan oleh presiden B.J Habibie, muncul berbagai saran untuk menentukan nasib sendiri bagi Timor Leste. Dan pada bulan Januari 1999, B.J. Habibie memutuskan untuk mengizinkan tindakan penentuan nasib sendiri untuk Timor Leste, dan ia ingin seluruh situasi diselesaikan pada tahun 2000.[9]

      Setelah presiden B.J Habibie mengizinkan pasukan internasional untuk masuk ke dalam wilayah Timor Leste, berbagai pasukan khusus perdamaian baik dari negara lain maupun institusi internasional seperti PBB dikirim untuk membantu proses pemulihan kemerdekaan Timor Leste. Diawali dengan dikirimnya pasukan INTERFET atau pasukan internasional untuk Timor Leste yang dipimpin oleh militer Australia yang tiba pada tanggal 20 September 1999.[10] Selain itu, sejak 1999, PBB telah mengerahkan lima pasukan khusus perdamaian secara berturut-turut ke Timor Leste, diantaranya yaitu, UNAMET (1999), UNTAET (1999–2002), UNMISET (2002–2005), UNOTIL (2005–2006) dan UNMIT (2006–2012).[11] Meskipun dalam proses transisi menuju negara merdeka, Timor Leste tidak dapat terhindar dari berbagai persoalan pokok seperti, kekerasan, kelaparan, kemiskinan, dan lain sebagainya, namun telah ditetapkan dan diakui secara internasional bahwa negara Republik Demokrasi Timor Leste merdeka sejak tanggal 20 Mei 2002.

KEBIJAKAN LUAR NEGERI

      Akan tetapi, seperti yang dikatakan di awal bahwa berbagai pergolakan di Timor Leste tidak hanya berhenti setelah negara tersebut meresmikan kemerdekaannya, karena sebagai negara baru akan menjadi tantangan yang luar biasa untuk menata segala macam aspek yang memposisikan Timor Leste menjadi sebuah negara merdeka yang sejajar dengan negara merdeka lainnya di dunia. Disini. peran kebijakan luar negeri mampu membantu menguatkan karakter dan identitas nasional Timor Leste di kancah internasional. Tak cukup itu, kebijakan luar negeri juga dapat membantu mencapai kepentingan nasional Timor Leste. Hal ini mendorong stabilisasi negara Timor Leste pasca kemerdekaan yang sistemnya masih tergolong lemah. Sama halnya dengan negara merdeka lainnya, perbedaan rezim tentu berakibat pada perbedaan kebijakan luar negeri. Alasannya dapat berupa perbedaan kepentingan nasional tiap tahunnya, dan signifikansi masalah yang menjadi prioritas oleh pemerintah Timor Leste.

      Pada saat pendudukan Indonesia terjadi di Timor Leste pada tahun 1975 yang didukung oleh Amerika dan Australia, menjadikan gerilyawan pro-kemerdekaan Timor Leste mencari dukungan masyarakat internasional. Hal ini dapat dilihat dari salah satu pemimpin FRETILIN, Jose Ramos Horta yang melakukan kunjungan ke Amerika pada tahun 1976, dimana ia diundang untuk menjadi pembicara di Cornell University dan tampil di depan sidang PBB. Tidak hanya itu, kelompok agama Katolik di Timor Leste juga menggalang bantuan di ranah internasional, terbukti dari salah satu tokoh agama Uskup Belo yang mendesak PBB supaya melakukan referendum bagi Timor Leste. Akibatnya, sejumlah aktivis internasional mulai dari pengamat politik hingga penulis jurnal mulai memberikan perhatiannya kepada Timor Leste, terutama setelah terjadi insiden pembantain Santa Cruz pada tahun 1991.[12] Perjuangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh penting Timor Leste menandakan diplomasi yang mereka gunakan untuk mendapatkan bantuan secara internasional, mengingat tidak ada pihak yang menjadi sandaran bagi rakyat Timor Leste.

      Pasca kemerdekaan Timor Leste diresmikan dengan bantuan secara langsung oleh PBB, berbagai tokoh dunia mendatangi wilayah tersebut dengan harapan dapat membuka kerjasama bilateral yang baik. Tak terkecuali Australia dan Indonesia sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Lain hal dengan Australia yang mendapat kecaman akibat menyerap keuntungan sepihak dari cadangan minyak dan gas di Timor Leste, Indonesia memiliki hubungan yang sangat baik. Terbukti dari berbagai bentuk kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Timor Leste, seperti perdagangan, penerbangan, energy, kesejahteraan, ekonomi, dan berbagai bentuk kerjasama lainnya, meskipun negosiasi mengenai perbatasan darat masih menjadi masalah prioritas diantara keduanya.[13] Hal tersebut tidak menyurutkan semangat kerjasama antara kedua negara, sebab kedua negara memiliki sejarah yang panjang sebelum masa rekonsiliasi tiba.

      Kebijakan luar negeri Timor Leste selanjutnya mengenai pengajuan keanggotaan tetap dalam organisasi regional kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Pengajuan tersebut selain didasari oleh letak strategis Timor Leste yang masih berada di kawasan Asia Tenggara, juga karena prinsip-prinsip diplomasi Timor Leste yang aktif menjalin kerjasama dengan ASEAN dan menjadi anggota tetap ASEAN. Akan tetapi pada kenyataannya Timor Leste masih berstatus observer atau pengamat dalam organisasi regional tersebut. Alasan mengapa Timor Leste masih belum ditetapkan secara resmi sebagai anggota tetap ASEAN sejak pengajuan formalnya pada tanggal 4 Mei 2011 dikarenakan berbagai hambatan berupa prasyarat yang belum mampu dipenuhi oleh Timor Leste. Terlebih lagi pada masalah ekonomi dan finansial, dimana apabila Timor Leste menjadi anggota tetap di ASEAN, maka akan menghabiskan jumlah biaya yang terbilang cukup tinggi untuk pengadaan konferensi maupun agenda-agenda lainnya.[14] Namun, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Timor Leste untuk mendapatkan keanggotaan resmi, seperti mengikuti agenda-agenda ASEAN, kemudian membentuk hubungan diplomatis dengan negara anggota ASEAN, dan berbagai upaya lainnya sehingga Timor Leste memperoleh posisinya sebagai anggota ASEAN di kemudian hari.

TANTANGAN

      Sebagai negara baru yang rentan rapuh dan lemah di berbagai aspek, Timor Leste telah mengupayakan berbagai usaha terbaiknya seperti pembentukan kebijakan luar negeri yang telah dibahas sebelumnya. Terlepas dari kebijakan luar negerinya, Timor Leste masih rentan terhadap konflik internal dan masalah pokok yang wajib dihadapi sebagai negara yang baru merdeka. Hal ini berkaitan dengan asumsi salah satu peneliti tentang kegagalan membangun negara baru di Timor Leste. Sebab, semakin banyaknya persoalan yang muncul seiring berjalannya waktu sejak Timor Leste memproklamirkan kemerdekaannya. Diantara berbagai persoalan yang dihadapi oleh negara baru Timor Leste yaitu, kesenjangan ekonomi yang sangat besar, sementara rakyat pribumi masih tergolong lemah[15] dalam hal pemberdayaan manusia. Masih ada rasa rasisme terhadap sebagian kelompok sehingga memicu insiden kekerasan, seperti yang terjadi pada bulan April-Mei 2006, dimana terjadi sebuah puncak bentrokan antara tentara dan polisi Timor Leste. Akibatnya terjadi kerusakan masal terhadap fasilitas aparatur negara dan perlakuan kekerasan, seperti upaya pembunuhan terhadap presiden dan Perdana Menteri Timor Leste pada saat itu,[16] yakni Xanana Gusmao dan Mari Alkatiri. Di sisi lain, misi perdamaian yang diutus PBB dinilai kurang mampu untuk menangani masalah rekonsiliasi Timor Leste, sebab transisi negara menjadi terhambat.

      Masalah lain yang menjadi tantangan Timor Leste selayaknya negara baru ialah masalah perbatasan laut dan hasil kilang minyak gas dengan Australia. Seperti yang telah diketahui bahwa Timor Leste berbatasan darat dengan Indonesia dan berbatasan laut dengan Australia. Apabila masalah perbatasan Timor Leste dengan Indonesia telah diselesaikan dengan baik, lain hal dengan Australia, yang memunculkan negosiasi mengenai garis batas antara kedua negara, dan karenanya pembagian royalti dari eksploitasi cadangan minyak dan gas di Laut Timor.[17] Menurut pihak Australia, eksploitasi tersebut dibenarkan karena Australia telah menggelontorkan sejumlah dana untuk memulihkan kemerdekaan Timor Leste. Akan tetapi hal tersebut bertentangan dengan pihak Timor Leste yang berpendapat bahwa Australia telah menyerap keuntungan sebanyak-banyaknya dari eksploitasi tersebut. Pada tahun 2019, Australia dan Timor Leste menyepakati perjanjian perbatasan maritim yang berakibat terhadap pembagian hasil minyak dan gas, yang terletak di 150 kilometer di tenggara Timor Timur dan 450 kilometer di barat laut Australia atau yang disebut ladang Greater Sunrise. Meskipun pada awalnya, Australia meragukan kemampuan Timor Leste dalam mengembangkan eksploitasi tersebut. Dengan begitu tercipta sebuah lapangan pekerjaan bagi Timor Leste[18] untuk menunjang aktivitas perekonomiannya.

KESIMPULAN

      Bahwasannya untuk menunjang situasi negara yang masih rentan terhadap konflik internal, dibutuhkan suatu kebijakan luar negeri yang akan bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat negara baru, seperti Timor Leste. Berawal dari jejak sejarah yang panjang dengan bekas luka yang mendalam akibat aktivitas-aktivitas kekerasan, Timor Leste mampu mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai negara baru di abad 21. Terlepas dari kemerdekaannya, Timor Leste menjalani masa-masa transisi yang menyulitkan hingga memunculkan konflik internal pada tahun 2006. Beriringan dengan munculnya konflik internal, Timor Leste menyadari betapa pentingnya posisi strategis di ranah internasional. Hal tersebut memicu Timor Leste untuk membentuk berbagai kebijakan luar negeri baik bilateral maupun multilateral yang salah satunya tertuang dalam keanggotaan ASEAN. Kini usaha Timor Leste telah terbilang cukup baik dibandingkan masa sebelumnya, terlihat dari upayanya dalam menyelesaikan konflik internal maupun eksternal. Namun Timor Leste tidak bisa lepas dari tantangan yang kian bermunculan. Maka dari itu, Timor Leste perlu menguatkan posisinya dengan mencanangkan kebijakan luar negeri, supaya dapat berperan aktif dan memudahkan penyelesaian tantangan yang akan dihadapinya.

REFERENSI

Blanco, Ramon. 2015. The UN peacebuilding process: an analysis of its shortcomings in Timor-Leste. Rev. Bras. Polít. Int. 58 (1)

Chopra, Jarat. 2002. Building State Failure in East Timor. Development and Change. 33 (5)

CNN Indonesia. 2019. Australia Sepakati Perbatasan Maritim dengan Timor Leste. Jakarta: cnnindonesia.com dalam situs website https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190729172903-113-416503/australia-sepakati-perbatasan-maritim-dengan-timor-leste yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

Firman, Tony. 2019. Referendum Timor Leste: Jalan Panjang Kemerdekaan Sebuah Bangsa. Tirto.id dalam situs website https://tirto.id/referendum-timor-leste-jalan-panjang-kemerdekaan-sebuah-bangsa-bFyB yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020

Hanggoro, Handaru Tri. Timor Timur Membangun Solidaritas Internasional. Historia.id dalam situs website https://historia.id/politik/articles/timor-timur-membangun-solidaritas-internasional-DWVLN yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili, Republik Demokratik Timor Leste. Kemlu.go.id dalam situs website https://kemlu.go.id/dili/id/pages/profil_negara_timor-leste_/1748/etc-menu yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. 2019. Menlu Retno Bertemu Menlu Timor-Leste Bahas Peningkatan Kerja Sama Indonesia dan Timor-Leste. Jakarta: Kemlu.go.id dalam situs web https://kemlu.go.id/portal/i/read/266/berita/menlu-retno-bertemu-menlu-timor-leste-bahas-peningkatan-kerja-sama-indonesia-dan-timor-leste yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

Ofstad, Olav. 2012. Reconciliation and Conflict Resolution in East Timor. Oxford: Oxford Institute for Ethnics, Law, and Armed Conflict

Pietsch, Sam. 2010. Australian Imperialism and East Timor. Marxist interventions, 2

Swastia, Syifa Ayunda. 2016. Diplomasi Timor Leste Bergabung dalam Keanggotaan Tetap ASEAN. Pekanbaru: JOM FISIP Vol. 3 No. 2

UN Mission UNMIT. 2012. Closure of UNMIT. Dili: unmissions.org dalam situs website https://unmit.unmissions.org/ yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020



[1] Blanco, Ramon. 2015. The UN peacebuilding process: an analysis of its shortcomings in Timor-Leste. Rev. Bras. Polít. Int. 58 (1). Hal. 42

[2] UN Mission UNMIT. 2012. Closure of UNMIT. Dili: unmissions.org dalam situs website https://unmit.unmissions.org/ yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020

[3] Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili, Republik Demokratik Timor Leste. Kemlu.go.id dalam situs website https://kemlu.go.id/dili/id/pages/profil_negara_timor-leste_/1748/etc-menu yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Firman, Tony. 2019. Referendum Timor Leste: Jalan Panjang Kemerdekaan Sebuah Bangsa. Tirto.id dalam situs website https://tirto.id/referendum-timor-leste-jalan-panjang-kemerdekaan-sebuah-bangsa-bFyB yang diakses pada tanggal 2 Mei 2020

[7] Ofstad, Olav. 2012. Reconciliation and Conflict Resolution in East Timor. Oxford: Oxford Institute for Ethnics, Law, and Armed Conflict. Hal. 4-8

[8] Henry, Iain. 2013. Playing Second Fiddle on the Road to INTERFET: Australia’s East Timor Policy Throughout 1999. Security Challenges, Vol. 9, No. 1. Hal. 95

[9] Pietsch, Sam. 2010. Australian Imperialism and East Timor. Marxist interventions, 2. Hal. 13-15

[10] Ibid. Hal. 22

[11] Blanco, Ramon. 2015. Op. Cit. Hal. 46

[12] Hanggoro, Handaru Tri. Timor Timur Membangun Solidaritas Internasional. Historia.id dalam situs website https://historia.id/politik/articles/timor-timur-membangun-solidaritas-internasional-DWVLN yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

[13] Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. 2019. Menlu Retno Bertemu Menlu Timor-Leste Bahas Peningkatan Kerja Sama Indonesia dan Timor-Leste. Jakarta: Kemlu.go.id dalam situs web https://kemlu.go.id/portal/i/read/266/berita/menlu-retno-bertemu-menlu-timor-leste-bahas-peningkatan-kerja-sama-indonesia-dan-timor-leste yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

[14] Swastia, Syifa Ayunda. 2016. Diplomasi Timor Leste Bergabung dalam Keanggotaan Tetap ASEAN. Pekanbaru: JOM FISIP Vol. 3 No. 2. Hal 2-11

[15] Chopra, Jarat. 2002. Building State Failure in East Timor. Development and Change. 33 (5). Hal. 981

[16] Blanco, Ramon. 2015. The UN peacebuilding process: an analysis of its shortcomings in Timor-Leste. Rev. Bras. Polít. Int. 58 (1). Hal. 49

[17] Pietsch, Sam. 2010. Australian Imperialism and East Timor. Marxist interventions, 2. Hal. 28

[18] CNN Indonesia. 2019. Australia Sepakati Perbatasan Maritim dengan Timor Leste. Jakarta: cnnindonesia.com dalam situs website https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190729172903-113-416503/australia-sepakati-perbatasan-maritim-dengan-timor-leste yang diakses pada tanggal 3 Mei 2020

Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...