Langsung ke konten utama

Penantian Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di bawah Payung Hukum Indonesia


Urgensi RUU PPRT atau Perlindungan Pekerja Rumah Tangga menjadi gencar dipromosikan di berbagai media sosial. Sebab ada titipan kepentingan milik para pekerja rumah tangga yang notabenenya berjenis kelamin perempuan untuk segera dituntaskan. Maka kemudian, giliran kita sebagai agent of change untuk mendesak para pemangku kebijakan untuk segera membahas dan mengesahkan RUU PPRT agar nasib buruk tak lagi menjadi tradisi yang akan dihadapi di masa kerja.

Mustahil apabila Indonesia menolak fakta bahwa masih banyak ditemukan masyarakat Indonesia yang menduduki posisi pekerjaan informal, termasuk pekerja rumah tangga. Hal yang demikian menjadi lumrah ketika lapangan kerja formal yang tersedia belum sepenuhnya memadai, atau bahkan menuntut kualifikasi yang cukup tinggi bagi para calon pengampu kerja. Jika peristiwa tersebut diperdalam, maka aspek kesejahteraan sosial menjadi akar dari segala permasalahan. Kemiskinan yang merantai, dari satu keluarga hingga ke keluarga selanjutnya. Lalu masyarakat dihadapkan dengan realita kehidupan yang mengarah pada kebutuhan finansial. Pada akhirnya segala jenis pekerjaan-pun dilakoni, berharap bahwa tetes keringat akan membawa seonggok berkah bagi keluarga yang ditinggalkan dan tentunya dirinya sendiri.

Namun kenyataannya, pekerjaan yang dilakukan justru menimbulkan permasalahan lain. Sejumlah konsekuensi harus ditempa, mau tidak mau demi menyukupi kebutuhan sehari-hari. Hingga urusan ajal menjadi hal yang paling mudah melekat di ujung nasib para pekerja. Sementara tiada payung bahkan wadah yang mampu menaunginya ketika permasalahan muncul. Cuplikan ilustrasi di atas menggambarkan betapa rumitnya kehidupan yang perlu dan harus dijalani oleh para pekerja informal, dengan titik fokus para pekerja rumah tangga wanita.

Istilah pekerja rumah tangga-pun kerapkali mengalami streotipe yang menekankan pada “perbudakan”[1], belum lagi perlakuan-perlakuan diskriminatif yang didapatkan selama masa kerja. Kaum wanita yang mayoritas digadang-gadang menjadi pekerja rumah tangga-pun rentan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan di lingkungan kerja. Maka kemudian pengharapan untuk mengalami kehidupan yang lebih layak meskipun harus menjalani pekerja rumah tangga adalah satu-satunya aspirasi yang disuarakan. Peran pemerintah menjadi sangat menentukan untuk menciptakan suatu produk hukum yang mampu melindungi harkat dan martabat pekerja rumah tangga wanita di masa kini dan masa yang akan datang.

Akan tetapi aspirasi tersebut tak kunjung terealisasikan, meski berulang kali para pekerja rumah tangga dan pemerhatinya melantangkan urgensinya terhadap pengesahan produk hukum berupa Undang-undang Perlindungan PRT. Media menyoroti betapa gerahnya masyarakat menanti RUU Perlindungan PRT supaya disahkan dan diberlakukan secara resmi. Hampir sekitar 15 tahun lamanya, RUU Perlindungan PRT keluar-masuk Progam Lesgislatif Nasional DPR-RI,[2] dan sampai saat ini masih belum mendengar kabar terbaharunya tentang pembahasan RUU tersebut. Cerita duka yang dialami oleh pekerja rumah tangga wanita-pun mau tak mau berbuntut panjang.

Alasan kepentingan sektoral para penguasa diduga menjadi salah satu latar belakang mangkraknya RUU Perlindungan PRT tersebut.[3] Sedangkan anggapan bahwa isu ketenagakerjaan kurang menarik perhatian para penguasa menjadi alasan berikutnya. Masyarakat pemerhati PRT, termasuk LSM serta para penyandang PRT bekerja sama mendesak para pemangku kebijakan untuk segera membahas kelanjutan RUU Perlindungan PRT. Maka dengan demikian, hal tersebut akan menjadi akhir cerita menyedihkan para pekerja rumah tangga.


[1] Lumbanrau, Raja Eben. 2020. 'Tangis' PRT di tengah pandemi Covid-19: Dipecat lewat WhatsApp, tidak dapat pesangon dan bertahan dalam lilitan utang. BBC.com dalam situs web (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52846765) yang diakses pada tanggal 11 April 2021

[2] Misiyah. 2020. Pentingnya Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) Indonesia. DW.com dalam situs web (https://www.dw.com/id/prt-adalah-pekerja-rumah-tangga-bukan-pembantu/a-53728584) yang diakses pada tanggal 11 April 2021

[3] Alaidrus, Fadiyah. 2019. Nasib Pekerja Rumah Tangga dan Mengapa Perlu Dilindungi. Tirto.id dalam situs web (https://tirto.id/nasib-pekerja-rumah-tangga-dan-mengapa-mereka-perlu-dilindungi-ehpT) yang diakses pada tanggal 11 April 2021

Komentar

Popular Posts

PENGALAMAN TPA BAPPENAS ONLINE

Hai semua! Jumpa lagi di galeri tulisanku. Sesuai dengan judulnya, kali ini aku akan berbagi pengalamanku ketika melakukan TPA Bappenas online. Tidak sekedar berbagi pengalaman, aku juga akan memberikan beberapa tips belajar dan persiapan menjelang tes. Silakan disimak berikut ini ~ 1. TPA Bappenas merupakan singkatan dari Tes Potensi Akademik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional . Menurut laman resmi koperasi bappenas selaku badan penyelenggara, tes ini dimaksudkan untuk mengungkap potensi intelektual. Nah hasil dari tes tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang dalam hal misalnya, melanjutkan studi S2 dan S3, promosi jabatan, sertifikasi dosen dan lain-lain. Sedangkan alasanku mengikuti tes ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk melanjutkan studi jenjang magister di Universitas Gadjah Mada. 2. Sama halnya dengan tes TOEFL atau tes bahasa lainnya yang bersifat resmi ( official ), TPA Bappenas juga berbayar. Dengan harga pada bulan Maret 2024 s...

SELEKSI ADMINISTRASI BEASISWA LPDP: PENILAIAN DIRI

Hai! Selamat datang kembali di galeri tulisanku. Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang melengkapi penilaian diri pada seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2023 program reguler. Tulisan ini sangat layak untuk dibaca bagi teman-teman yang sedang menyiapkan pendaftaran beasiswa LPDP. Silakan disimak berikut ini~ Salah satu isian yang harus dilengkapi pada pendaftaran beasiswa LPDP adalah “ Penilaian Diri ”. Pada menu ini, teman-teman harus mengisi beberapa hal yang berkaitan tentang diri sendiri, yaitu kelebihan, kekurangan, pengalaman beasiswa, pengalaman membanggakan, pengalaman kurang membanggakan, hal terakhir yang diajarkan pada diri sendiri, kesalahan yang pernah dilakukan, tugas di luar lingkup dan pembeda dengan peserta lain. Karena isian data yang dilengkapi adalah seputar diri sendiri atau personal, maka peserta atau pendaftar beasiswa-lah yang sejatinya lebih tau ketika mengisi menu ini. Namun tak mengapa, aku di sini akan membantu teman-teman untuk menemukan ja...

Selangkah Lebih Dekat dengan Tuhan: Refleksi Perjalanan Spiritual dari Novel “Ziarah” Paulo Coelho

"Jika Anda sekarang merasa jauh dari Tuhan, itu bukan karena Anda ditakdirkan seperti itu, melainkan Anda masih berada di dalam perjalanan untuk mendekat kepada-Nya." Aku senang sekali mengawali ulasan buku ini dengan kutipan yang aku buat sendiri berdasarkan pengalaman membacaku. Sebagaimana judul di atas, tulisan kali ini akan mengulas salah satu karya Paulo Coelho berjudul “Ziarah” (atau dalam bahasa Inggris, The Pilgrimage ). Cover depan buku "The Pilgrimage" Sejatinya, buku ini bukan milikku, melainkan aku pinjam dari pasanganku. Kami membelinya bersama di pameran buku Gramedia “Semesta Buku”. Ini adalah buku karya Coelho pertama yang kubaca. Sebelumnya, kami, khususnya aku, hanya sering mendengar tentang karya terkenalnya, Sang Alkemis . Jadilah saat di pameran buku itu, kami memutuskan membeli dua buku Coelho sekaligus: Sang Alkemis dan Ziarah . Menurut pasanganku, memilih buku Ziarah akan membuat pengalaman membaca karya Coelho jadi lebih lengkap, k...